Wib"/>

Jump to content.

Reflection

Kata-kata bijak


Dalam setiap kesempatan tarikan napas, jawaban apa yang kita peroleh dari pertanyaan-pertanyaan ini?

————————————————

Mata waktu ke-1 : “Ketika Anda menghadap matahari, bayangannya akan selalu jatuh di belakang anda”

1. Seberapa sering kita membangun optimisme hidup? Tidakkah kesulitan, kegagalan dan kehancuran yang sering datang pada kita sedemikian mudah melunturkan optimisme yang semula kita bangun?

2. Apakah kita sudah berusaha menjadi manusia yang luwes menghadapi kekurangan dan kelemahan kita dan membuatnya tidak menjadi belenggu hidup? Atau kita setiap hari justru tak pernah berhenti merengek, mengeluh dan menangisi sedikit saja kelemahan dan kekurangan kita.

3. Seberapa serius kita menetapkan tujuan dan harapan kita?

————————————————

Mata waktu ke-2 : “Biarkan dengan ringan hidupmu menari di batas waktu, seperti embun pada pucuk sebuah daun”

1. Apa yang bisa kita kenali dari perasaan kita, orang lain dan lingkungan sekitar terhadap masalah yang sedang kita hadapi? Resiko apa yang timbul jika kita mengambil suatu pilihan? Demikian pula jika kita menghindarinya?

2. Sesering dan seberani apakah kita keluar dari zona nyaman kita? Hal – hal baru apa yang kita dapatkan?

3. Hari ini hal kecil apakah yang kita ketahui yang sebelumnya selalu lewat dari pengamatan kita? Apakah kesimpulannya?

—————————————————

Mata waktu ke-3 : “Manik-manik pengetahuan itu sudah diterima, hanya tinggal merangkainya menjadi kalung”

1. Apa yang kita lihat hari ini? Sedetil apakah kita memikirkannya? Apakah kemudia ada gagasan yang kita peroleh dari situ?

2. Apakah kita sudah memulai dan berani berkreasi? Bahkan ketika banyak orang lain mengejek apa yang kita lakukan?

——————————————————

Mata waktu ke-4 : “Melalui keragu-raguan menuju ke aksioma kepastian”

1. Kokohkah pijakan yang sudah kita bangun dalam mengejar impian-impian kita?

2. Seberapa tahan kita mengahdapi kegagalan? Lalu mampukan kita merangkulnya untuk kita jadikan pelajaran dalam melanjutkan usaha kita mengejar keberhasilan?

3. Seberapa sering kita menggunakan intuisi dalam mengelola masalah-masalah dalam kehidupan keseharian kita?

———————————————————

Mata waktu ke-5 : “Jika di bandingkan tahu keajaiban dalam hidup anda, tahu seluruh dunia itu bukan apa-apa”

1. Hal-hal kecil apa yang berguna dan menjadi jalan bagi kita dalam berproses ke arah perubahan?

2. Bisakah kita melepaskan “beban keinginan” semula saat kita “tersesat” dan kemudian menemukan kejutan-kejutan yang menyenangkan?

3. Seberapa sering kita mengajukan pertanyaan tentang hal-hal di sekitar kita? Atau kita justru sudah sangat apatis?

———————————————————-

Mata wktu ke-6 : “Kita tidak dapat mendorong-dorong seseorang naik tangga, kecuali ia mau naik anak tangga demi anak tangga”

1. Ke mana kita akan pegi, bahkan untuk tujuan-tujuan kecil minggu depan, bulan depan atau tahun depan?

2. Apakah hari ini kita menikmati proses, untuk harapan dan keiinginan kita jauh ke depan? Situasi seperti apa yang membuat kita mengeluhkan proses-proses itu? Bagaimana mengubahnya?

3. Tekunkah kita memperjuangkan harapan? atau sekedar menempatkannya sebagai impian kosong, dan menyesalinya karena kemudian impian itu mati dan justru orang lain yang memperolehnya?

———————————————————–

Mata wktu ke-7 : “Kehidupan yang paling menyenangkan adalah kehidupan imajinasi. Karena itu janganlah mengungkung imajinasi seseorang”

1. Sudahkah kita menemukan jalan memutar dengan menjunkirbalikkan logika, untuk menemukan jalan pemecahan masalah yang kita hadapi? Dan beranikah kita menempuhnya?

2. Tekunkah kita “memperjuangkan” apa yang menjadi harapan dengan terus menerus memvisualisasikannya dalam pikiran?

3. Ide apa yang kita temukan saat melihat anak-anak bermain? sanggupkah kita “mencuri” cara mereka mengelola keingintahuan dan imaginasi?

————————————————————-

Mata waktu ke-8 : “Ujian terbesar di dunia ini adalah menanggung kekalahan tanpa kehilangan hati”

1. Seberapa luas kita membuat batasan kegagalan? Apakah sekali gagal menjadi nominal yang kita pakai? Bagaimana kita mendefinisikan kata gagal?

2. Manakah yang sering kita rasakan : kecaman sebagai sesuatu yang menyakitkan atau kita justru bisa mengambil manfaat darinya?

3. Apakah kegagalan menjadi sebuah tragedi bagi kita? Lalu seberapa sering kita menertawakan diri, kegagalan dan kebodohan kita?

————————————————————–

Mata waktu ke-9 : “Lakukanlah selalu apa-apa yang takut kau lakukan”

1. Apakah kita sanggup mengisolasi rasa takut? Mampukah kita melangkah terus dan meneguhkan keberanian?

2. Seberapa paham kita akan dua pengertian yang saling berlawanan?

3. Bisakah kita menemukan sudut pandang baru dari sebuah paradoks? Seperti apa?

————————————————————–

Mata waktu ke-10 : “Jejak-jejak kaki di pasir waktu, tidak dibuat sambil duduk”

1. Seberapa cepat dan sering kita menindaklanjuti ide dan pemikiran kita?

2. Pedulikah kita pada ide dan pemikiran kita dengan mencatatnya? Apakah kita sudah mampu menemukan manfaatnya?

3. Seberapa lebar kita merentangkan perhatian? Lalu, seberapa banyak kebetulan yang datang pada kita?

————————————————

Sorry, the comment form is closed at this time.