Foreword
Suatu ketika saya membaca kisah tentang si penjelajah legendaris Christopher Columbus. Ketika mengajukan proposal bagi penjelajahannya, dia banyak beradu argumentasi dengan para pegawai istana Spanyol. Dalam perdebatan itu, dia melontarkan tantangan untuk membuat sebuah telur berdiri pada ujungnya. Dengan berbagai cara yang dipikirkan, para pegawai istana tidak mampu membuat telur itu berdiri. Setelah mereka menyerah, Columbus kemudian merebus telur itu matang – matang, lalu memecahkan sedikit kulit telur di bagian ujungnya dan kemudian mendirikannya. Para pegawai protes atas cara yang diambil Columbus yang mereka anggap curang. Tetapi dengan tenang dia menjawab, “Kenapa kalian berasumsi lebih banyak daripada yang perlu?”
Saya beberap saat memikirkan kisah itu, terutama jawaban Columbus atas protes para pegawai istana.
Lalu pada kesempatan yang lain, saya menemukan sebuah epigram (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, epigram didefinisikan sebagai peribahasa yang padat dan penuh kearifan dan sering mengandung paradoks) Herakleitos, seorang pemikir Yunani kuno yang provokatif. Bunyi epigram tersebut adalah : “Setiap binatang yang berjalan, di dorong ke arah tujuannya dengan cemeti”.
Lalu, di mana hubungan antara kisah tentang Columbus dan para pegawai istana dengan epigram di atas? Bagi saya, kisah Columbus dan terutama kesimpulannya terhadap apa yang dilakukan para pegawai istana merupakan ilustrasi yang pas untuk mencari makna/penafsiran epigram Herakleitos di atas. Kita barangkali sering bersikap seperti “binatang yang berjalan ke arah tujuannya dengan di dorong oleh cemeti” dalam mengelola asumsi – asumsi. Tentu suatu saat asumsi adalah kekuatan yang membantu ketika harus mengambil sebuah keputusan. Tapi di saat yang lain, ketika kita selalu memandang sesuatu dengan “kaca mata kuda” asumsi – asumsi yang kita bangun, barangkali kita tidak akan mampu menemukan kemungkinan – kemungkinan lain untuk jawaban atas sebuah persoalan.
Bukankah satu-satunya syarat yang diajukan oleh Columbus adalah telur itu bisa berdiri? Sedangkan para pegawai istana berasumsi bahwa telur yang diberdirikan harus utuh, apa adanya, proses untuk membuat berdiri seketika itu, dan barangkali asumsi –asumsi lain, sebagaimana yang dikatakan Columbus sebagai asumsi – asumsi yang tidak perlu (untuk menyelesaikan masalah itu).
******
Sampai sekarang saya masih terus terkesan dengan cerita tentang Christopher Columbus di atas, dan saya juga masih suka menafsirkan makna epigram – epigram/ kata – kata bijaksana yang sering saya temukan. Dalam kehidupan sehari–hari banyak sekali kata-kata bijak atau epigram dari tokoh – tokoh terkenal yang sering kita temui, baik melalui tulisan atau sumber verbal. Mereka, tokoh-tokoh terkenal itu, tentu bukan tanpa maksud menuliskan atau mengucapkan kata-kata bijak. Tapi tentu saja tergantung kita, bagaimana memahaminya. Dan tentu kita juga bebas memakai kata-kata bijak/epigram-epigram tersebut sebagai sumber inspirasi untuk kehidupan rohani, kreatifitas, hubungan personal dengan orang lain maupun aspek – aspek lain dalam kehidupan kita sehari – hari, termasuk bagaimana menafsirkan maknanya.
Nah, dalam page utama blog ini, saya akan mengambil kata – kata bijak maupun epigram dari tokoh-tokoh terkenal dan memaknainya sebagi sumber inspirasi kreatifitas. Tentu tafsir tersebut bukan tafsir mati dan satu – satunya. Sebagi sumber inspirasi untuk anda, anda berhak untuk tidak setuju. Anda berhak menafsirkannya sesuai dengan pikiran anda. Dan bukankah dari hal demikian sebuah kreatifitas dimulai?
Sorry, the comment form is closed at this time.

