Wib"/>

Jump to content.

Inspirasi mata waktu ke-1 : Ketika anda menghadap matahari

“Ketika Anda menghadap matahari, bayangannya akan selalu jatuh di belakang anda”
(Helen Keller, 1880 – 1968)

Berpikir kreatif_1

1. Bersikaplah optimis

Tak ada sesuatupun dapat dimulai dengan baik tanpa perasaan optimis. Bisa saja orang tidak sungguh – sungguh tahu apa yang akan terjadi ketika ia menyelesaikan suatu pekerjaannya, tapi setidaknya perasaan optimis akan terus menuntun usahanya untuk sampai ke garis akhir tujuannya, atau setidaknya terminal sementara untuk kemudian meneruskan usahanya.

Optimisme berarti memiliki harapan, bahwa secara umum hal-hal dalam kehidupan yang dipikirkan/dikerjakan, akan berjalan baik – baik saja, meskipun seringkali gagal dan hancur. Pada kebanyakan kasus, optimisme lebih pada bagaimana cara seseorang memandang suatu usaha yang dilakukannya (terutama saat menemui kegagalan). Orang yang optimis akan berpikir bahwa kegagalan terjadi karena sebab – sebab yang bisa diubah. Sebaliknya, orang yang pesimis menganggap kegagalan datang dari sesuatu yang tak bisa diubah, dan ia menerimanya begitu saja. Optimisme merupakan cara untuk mencegah orang bersikap putus asa, depresi dan masa bodoh ketika dihadang kesulitan.

Tentang optimisme, ada ilustrasi yang menarik tentang Babah Akong, seorang nelayan tua di pesisir desa Ndete, Kepulauan Flores, sebagaimana yang didokumentasikan dalam film yang terpilih sebagai salah satu finalis Eagle Awards Documnetary Competition 2008 yang diselenggarakan Metro TV. Ketika desanya hancur dan harta bendanya musnah karena tsunami di Flores tahun 1992, bukannya merasa kehidupannya berhenti, namun ia justru tertantang untuk memecahkan masalah serupa jika suatu saat terjadi tsunami lagi. Ia kemudian berusaha menanam pohon bakau, sebuah pekerjaan yang semula ditertawakan dan diejek oleh istri dan tetangga-tetanganya. Bahkan untuk urusan kecil seperti membeli parang dan sekop utnuk memulai usahanyapun ia mesti meminjam uang dari temanya. Namun ia terus melaksanakan keinginannya. Tahun 1997, setelah lima tahun pekerjaan itu dijalaninya, pohon – pohon bakau itu mulai tumbuh. Tapi begitu mulai besar pohon itu sebagian besar justru mati. Ia mencari sebabnya dan menemukan bahwa akar pohon-pohon tersebut tidak kuat tertanam. Ia tidak putus asa. Bersama istrinya yang karena kesungguhannya kemudian memberi dukungan, ia menemukan cara dengan menanam bibit pohon itu memakai polybag. Bagi mereka harga polybag tidak murah, sehingga istri Babah Akong sampai menjual kalung lama pemberian suaminya dan Babah Akong sendiri menjual babi piaraannya. Karena ketekunannya dan rasa optimis yang terus ia pelihara, sekarang setelah 16 tahun usahanya, Babah Akong dan istrinya sudah menghijaukan 23 hektar pantai di Flores. Bahkan kini Babah Akong sudah membentuk kelompok pelestari hutan sebanyak 41 grup dengan anggota sebanyak 2.000 orang.

Bukankah optimisme menjadi senjata vital yang sangat berharga dalam kehidupan Babah Akong tersebut? Bagaimana seandainya Babah Akong menafsirkan kekalahan hidupnya secara pesimistik, bukankah itu justru akan memperbesar rasa tak berdaya dan putus asa?

2. Ketahui dan abaikan kelemahan kita

Bayangan hitam, kelemahan – kelemahan kita, jika kita sadari, kita petakan dan kemudian kita karantina, pada akhirnya hanya sekedar akan mengikuti, tanpa pernah menjadi penghalang di depan kita. Kelemahan dan kekurangan adalah sebuah keniscayaan yang selalu ada di setiap manusia. Tinggal bagaimana kita menyikapi kelemahan – kelemahan tersebut. Kita hanya akan terjebak menjadi manusia yang picik dan kerdil jika terus menerus menempatkan kelemahan di depan kita dan memutuskannya sebagai sesuatu yang tidak bisa disingkirkan. Sudah semestinya kita menyingkirkan dan mengabaikan kelemahan kita, selama kita memang ingin terus berjalan ke depan dan mengejar harapan dan keinginan kita. Apa yang kita kejar dan hadapi tumbuh di depan kita dan apa yang kita abaikan akan berjalan di belakang kita.

Helen Keller, adalah sosok luar biasa yang mampu mengabaikan kelemahanya dan menghadapi serta mengejar apa yang ia inginkan. Dengan “bayangan hitam” kecacatan dua indra sekaligus : buta dan bisu – tuli, ia terus memelihara keyakinannya. Ia luwes menghadapi kekurangannya dan bahkan berprestasi tinggi, jauh melebihi orang – orang normal yang seringkali justru menangisi sedikit kelemahannya. Helen Keller menulis banyak buku. Ia mampu menyadari kecacatannya, dalam arti mampu menghadapinya dengan wajar, dan mengkarantina kekurangannya itu sehingga tidak menjadi penghalang bagi harapannya.

3. Tetapkanlah apa yang kita kejar

Seorang sprinter pasti paham betul dimana posisi garis finis, sehingga ia akan terus berusaha mengerahkan tenaganya sebelum sampai ketitik finis lomba. Menetapkan apa yang kita kejar, akan sekaligus berarti menetapkan cara, strategi, dan dukungan kemampuan dalam mengejar tujuan itu. Menetapkan berarti berusaha membuat usaha kita terus lurus dan fokus pada tujuan. Bisa saja selama mengejar tujuan itu, kita di belokkan oleh berbagai hal. Tapi membuat jalan menjadi lurus dan fokus kembali adalah buah dari upaya menetapkan tujuan.

Siapa tidak kenal Lee Kuan Yeew, Bapak pendiri Singapura itu. Sadar bahwa Singapura hanya sebuah “titik kecil” di peta, dan lahir sebagai negara tanpa sumber daya alam, termasuk sumber air, serta banyak kekurangan yang lain, Lee Kuan Yeew memimpin rakyatnya dengan strategi bekerja keras, disiplin, jujur dan bersih. Ia terus menetapkan tujuannya untuk membentuk negara yang maju, modern dan kaya. Dan sekarang tujuan itu berhasil karena ia terus – menerus menetapkan apa yang ia inginkan dan konsekuen mengejarnya.

0 comments

Leave a comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



Read more

»