Inspirasi mata waktu ke-6 : Kita tidak dapat mendorong-dorong seseorang naik tangga
“Kita tidak dapat mendorong-dorong seseorang naik tangga, kecuali ia mau naik anak tangga demi anak tangga”
(Andrew Carnegie, Industrialis Amerika, 1835 – 1919)
1. Tentukan ke arah mana kita akan
pergi
Apapun yang diharapkan oleh manusia (apakah itu pengembangan teknologi, penulisan buku, pendirian sebuah usaha, upaya penemuan dll) selalu di dahului dengan memvisualisasi keinginan tersebut ke dalam pikiran dan menentukan tujuan dan cara mencapainya. Tanpa hal itu mustahil tujuan yang diharapkan bakal tercapai. Tanpa menentukan ke arah mana tujuannya, niscaya manusia akan terhuyung-huyung dan terjerembab. Telepon genggam tentu tidak hadir dalam kehidupan manusia begitu saja, tapi merupakan hasil dari penetapan tujuan dari para ilmuwan dan insinyur untuk membuat manusia lebih mudah berkomunikasi, cepat dan fleksibel.
Kita tidak mungkin sampai ke tujuan yang kita harapkan tanpa menentukan ke mana kita akan pergi. Menentukan ke mana tujuan kita berarti mengeksplorasi apa yang kita perlukan untuk sampai ke tujuan itu sekaligus memberdayakan apa yang kita miliki. Menentukan ke arah mana kita akan pergi berarti pula mentukan syarat bagi tujuan kita, sekaligus memahami resikonya.
Menentukan tujuan lebih dari sekedar mengusung impian. Jika impian hanya berhenti sampai tahap menginginkan, menentukan tujuan berarti “membayar” apa yang menjadi impian tersebut dengan memahami sekaligus menentukan syaratnya, cara mencapai, serta resiko yang mungkin timbul.
Seorang Bill Gates telah menentukan arah perginya, ketika ia memutuskan berhenti kuliah dari Universitas Harvard dan beralih ke dunia bisnis software dengan mendirikan microsoft. Benyamin Franklin menentukan arah perginya sebagai penemu penangkal petir, ketika ia berani menempuh resiko melakukan eksperiman berbahaya dengan cara menerbangkan layang-layang yang diberinya batangan logam berujung runcing dan menghadap ke atas, pada saat badai guntur. Galileo Galilei menentukan arah perginya sebagai ilmuwan besar, saat ia berani menanggung resiko dengan di bawa ke pengadilan dan dijatuhi hukuman ketika ia bersikukuh pada pendapatnya tentang tata surya.
Tujuan mutlak diperlukan dalam mewujudkan suatu mimpi. Tanpa menentukan tujuan, keinginan dan mimpi yang kita bangun akan segera mati suri dan sekedar menjadi angan-angan belaka tanpa sempat tumbuh dan menjadi kenyataan
2. Petakan dan nikmati proses
Kita memang harus berpikir tentang keberhasilan kita. Tentang tujuan akhir dari usaha kita. Tapi memikirkan tujuan akhir tanpa memetakan proses justru akan membuat langkah kita tergesa-gesa dan tidak fokus. Padahal dalam perjalanan selalu ada proses yang harus kita lewati satu persatu dan proses itupun harus kita pahami. Keberhasilan akhir adalah hasil kumulatif dari keberhasilan masing – masing proses penyusunnya. Sebagaimana tujuan akhir memerlukan syarat dan strategi untuk mencapainya, demikian pula dengan proses-proses penyusunnya.
Sedangkan menikmati proses akan membuat pikiran kita lebih rileks. Pikiran yang rileks akan mengundang kreativitas, karena pikiran akan lebih leluasa bergerak dan menjelajah.
Sebagai contoh, bagi seorang penulis, sadar atau tidak (tentu lebih baik jika proses itu memang telah dipetakan, sehingga si penulis memahami syarat-syarat yang diperlukan dalam menjalani proses-proses itu) dia pasti melalui proses-proses dalam tahap kreatifnya membuat suatu tulisan, dan mustahil ia tidak menikmati proses-proses tersebut sampai ia menghasilkan sebuah tulisan yang baik. Proses yang saya maksudkan adalah :
- proses persiapan : seorang penulis telah menyadari apa
yang akan ditulis dan bagimana menuliskannya;
- proses inkubasi : seorang penulis akan menyimpan gagasan
tulisannya dan memikirkan gagasan itu;
- proses penulisan; dan
- proses revisi
Bagaimana mungkin seseorang menghasilkan tulisan yang bagus tanpa menikmati masing – masing proses di atas? Bukankah keberhasilan masing- masing proses itu akan menentukan proses berikutnya sampai selesainya sebuah tulisan?
3. Usahakan dengan tekun
Bukan hal aneh jika salah satu sebab keberhasilan penciptaan dan penemuan-penemua besar adalah karena dilakukannya usaha yang tekun dan terus menerus. Bahkan ketika sebuah keberuntungan datang, sesungguhnya itu hanya awal terbukanya kesempatan. Tentu usaha yang tekun merupakan cara untuk menuntaskannya. Ketekunan dalam mengerjakan sesuatu menuntun pada temuan-temuan kesalahan, tetapi dengan sikap terus tekun pula hal itu justru menjadi pijakan untuk memperbaikinnya.
Mungkinkah Cristhoper Columbus menemukan benua Amerika jika ia langsung menyerah dan tidak berusaha dengan tekun saat proposal penjelajahannya di tolak Portugis dan Inggris? Mungkinkah Thomas Alva Edison bisa menemukan bola lampu jika ia tidak tekun mencoba sampai 43.000 filamen yang cocok? Mungkinkah tercipta fresco yang luar biasa di langit-langit Kapel Sistine di Roma, jika Michael Angelo tidak tekun mengerjakannya selama 4 tahun terus menerus?
Tak ada satu pun pekerjaan besar dapat diselesaikan tanpa dorongan untuk memulainya dan tekat kuat untuk menyelesaikannya. Untuk itu ketekunan menjadi syarat utama. Bisakah kutipan bijak dari Leonardo da Vinci berikut menyadarkan kita akan pentingnya kerja keras dan tekun? “Engkau, Ya Tuhan, menjual semua hal baik kepada kami dengan harga kerja keras”
0 comments
Leave a comment
Read more
« Inspirasi mata waktu ke-5 : Jika di bandingkan tahu keajaiban dalam hidup anda
Inspirasi mata waktu ke-7 : Kehidupan yang paling menyenangkan adalah kehidupan imajinasi. »

