Wib"/>

Jump to content.

Inspirasi mata waktu ke-10 : Jejak-jejak kaki di pasir waktu, tidak dibuat sambil duduk

“Jejak-jejak kaki di pasir waktu, tidak dibuat sambil duduk”
(James Lee Valentine, motivator – penulis)

1. Tindaklanjuti ide dan pemikiran dengan segera

Tentu kita tidak bisa menyangkal pentingnya sebuah impian, rencana, pemikiran, maupun konsep dalam perjalanan mengejar suatu tujuan. Semua itu menjadi dasar dan pijakan serta seringkali memberi gambaran mengenai gerak dan arah pekerjaan yang akan kita lakukan. Tapi terus menerus berkutat dengan impian dan pemikiran, tidak akan membawa kita kemanapun. Harus ada batas yang jelas antara berpikir dan merencanakan dengan aksi/melaksanakan. Maksud saya, harus diberi batasan waktu, sampai kapan sebuah pekerjaan direncanakan/dipikirkan dan kemudian dieksekusi ke dalam tindakan. Memikirkan suatu rencana dan ide seperti duduk di kusi goyang. Kita merasakan getarannya dan kita terbuai oleh gerakan-gerakan itu tapi kita tidak ke mana-mana. Benar bahwa suatu pekerjaan atau penemuan besar selalu diawali dengan mimpi dan pemikiran. Tapi apalah artiya pemikiran itu, kalau tidak ditindak lanjuti.

Dalam aksi (eksekusi pemikiran ke dalam tindakan), semua hal yang sebelumnya menjadi pemikiran dan konsep bisa diterapkan. Seringkali detil–detil justru akan lahir dan ditemukan ketika suatu pemikiran diaplikasikan ke dalam tindakan. Itu karena selama proses berpikir semua realita (yang mungkin ditemui dalam melaksanakan pekerjan) tidak selalu bisa digambarkan.

Menindaklanjuti sebuah pemikiran (bahkan yang belum selesai) ke dalam tindakan, seringkali lebih menantang dan menggairahkan, karena dalam tindakan tersebut sekaligus ada proses berpikir yang terus menerus. Dalam proses pengerjaannya, ide mungkin dikembangkan, diadaptasi dari sumber lain, ditambahkan atau justru diubah dan ide-ide baru dimasukkkan. Kerapkali konsep ini lebih menantang daripada mengerjakan sesuatu berdasarkan ide dan pemikiran yang telah matang. Akan lebih menantang jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Prinsipnya, berpikir (kreatif) harus menjadi sebuah petualangan. Memahami kapan harus berhenti (dari sekedar) berpikir dan menindaklanjuti sebuah ide seharusnya merupakan keputusan yang penting. Kenyataan bahwa memulai pekerjaan dengan konsep yang minim dan tidak memadai kemungkinan akan menyeret kita pada rasa frustasi dan lelah yang bisa menyeret pada godaan untuk menyerah. Tapi sebaiknya dicatat bahwa para pemikir besarpun sering mengalami “masa-masa gelap” ini dalam proses penciptaan karya mereka. Robert Frost, seorang sastrawan Amerika mengatakan : “Aku tidak pernah menulis puisi yang bait terakhirnya sudah aku ketahui”. Dan bahkan John Hunter, seorang ahli bedah Inggris terkenal pada abad 18, memberi nasehat yag jelas pada muridnya, Edward Jenner, saat dia berpikir dapat mencegah cacar dengan vaksinasi, “ Jangan berpikir, cobalah dengan sabar dan akurat!”. Dan selanjutnya memang terbukti, setelah bertahun-tahun Edward Jenner bekerja untuk mewujudakan pemikirannya itu, vaksin cacar yang dia pikirkan berhasil ditemukan.

Harus disadari bahwa ide yang sederhana tapi dilaksanakan jauh lebih bermanfaat daripada ide besar yang mengendap sekedar sebagai ide dan akhirnya mati membusuk. Entah sebuah karya sastra yang indah, gedung pencakar langit yang megah, sebuah produk kuliner yang lezat, struktur organisasi yang efisien dan sebagainya, semuanya dalah ide yang dilaksanakan. Ide yang dieksekusi ke dalam tindakan.

2. Buatlah dokumentasi atas ide/pemikiran

Apakah kita berpikir bahwa jejak kaki di pasir akan selamanya ada? Tentu saja tidak, karena pada saatnya angin dan ombak akan mengapusnya. Sebagaimana suatu jejak di pasir akan segera sirna karena ombak, sebuah ide dan pemikiran juga akan mudah hilang dihapus ombak waktu bila tidak didokumentasikan.

Hidup adalah lautan ide. Dan ide itu bertebaran dimana – mana disekitar kita. Tinggal bagaimana respon kita rerhadap gejala dan fenomena dimana sebuah ide berasal. Seorang pemikir kreatif adalah seorang yang tidak pernah kehabisa ide, karena ia mampu menganalisa, mensintesa, membayangkan dan akhirnya menilai gejala-gejala. Dalam kehidupan yang penuh lautan ide, membuat catatan adalah tindakan yang penting. Barangkali kita sering mengalami, saat akan tidur tiba-tiba menemukan sebuah ide/pemikiran, tapi mekanisme reflek otak kita memerintahkan untuk menyimpan dalam pikiran dan mengungkapkan kembali esok hari. Tapi apa yang terjadi? Karena keesokan harinya otak sudah dipenuhi rangsangan pikiran-pikiran lain, maka ide yang terlintas dalam otak kita semalam akan lenyap begitu saja.

Sumber ide adalah segala hal yang bisa kita tangkap dengan indra. Entah ide mentah lain, kutipan-kutipan, percakapan, sesuatu yang kita dengar dan lihat di televisi, pidato seorang tokoh atau sumber-sumber lain. Mencatat ide akan memberikan kesempatan pada kita untuk merenungkan ulang dan megembangkanya menjadi sebuah ide dan pemikiran yang lebih besar. Begitu sebuah ide/pemikiran ada dalam catatan kita, kita akan spontan bereaksi mencocokkannya secara personal dengan ide-ide lain dan pengaruh –pengaruh yang datang pada kita. Dan itu akan menimbulkan rangsangan persemaian ide-ide baru.

Tidak perlu dipersoalkan apakan catatan yang kita buat itu penting/tidak penting atau menarik/tidak menarik. Reaksi yang perlu kita perhatikan adalah apakah bahan itu mengesankan atau tidak saat kita mendengar, melihat/membaca dan merasakannya. Penting atau tidak itu sangat berhubungan dengan konteks waktu.

Claude Simone, seorang penulis Perancis, meyatakan bahwa untuk mengumpulkan bahan untuk sebuah novel, sebenarnya cukup hanya mengitari sebuah blok di kotanya. Setelah pulang, tuliskan semua yang didengar, dirasakan, diingat, dipikirkan dan seterusnya dan itu semua sudah cukup. Kedengarannya itu berlebihan, tapi yang ingin ditekankannya adalah bahwa sumbe ide itu ada dimana-mana dan yang perlu dilakukan adalah mendokumentasikannya dengan tulisan.

3. Manfaatkan kebetulan menjadi sebuah peluang

Dunia dan kehidupan adalah lautan kesempatan dan peluang. Segala unsur memberi kesempatan kepada kita untuk dikembangkan dan dimanfaatkan. Kembali kepada prinsip berpikir dan bertindak kreatif yang selalu melibatkan proses mensitesa, menganalisa, membayangkan serta menilai, proses itu selalu bisa diterapkan kepada semua unsur dalam hidup kita, dalam setiap kesempatan.

Kesempatan tidak selalu berarti sekedar kesempatan atas apa yag kita fokuskan pada tujuan yang kita kejar. Cara berpikir kreatif menuntut kita untuk selalu memiliki rentang perhatian yang lebar. Rentang perhatian yang memungkinkan kesempatan datang melalui jalan lain atau bahkan menemukan kesempatan/peluang lain diluar apa yang kita kejar. Jika kita berpikir terlalu sempit, barangkali tak banyak peluang yang kita temui, karena kita hanya berpikir tentang satu jalan. Semakin banyak jalan, tentu semakin banyak peluang yang bakal kita temui. Dan seringkali peluang jenis ini datang sebagai sebuah kebetulan.

Hal yang kita perlukan adalah kepekaan dan pikiran lebar untuk membaca kebetulan dan mengkonstruksinya menjadi peluang. Apakah anda mengira bahwa Alfa Edison menemukan mimeograf (mesin stensil) saat dia mengejar penemuan tentang alat itu? Tidak, Edison justru sedang mencari hal lain saat ia menemukan ide tentang mimeograf . Intusinya yang kuat menuntun dia berpikir bahwa alat tersebut akan sangat berguna dan menjadi penemuan baru.

Kita seringkali mendefiniskan kebetulan sebagai sebuah keberuntungan. Tapi dalam konteks ini, keberuntungan (yang kemudian menjadi peluang) datang pada pikiran yang siap, pikiran yang cermat dan jeli, pikiran yang terbuka lebar. Kebetulan dan keberuntugan tidak datang pada pikiran yang tertutup. Pikiran dengan rentang perhatian yang sempit. Pikiran yang diselubungi kacamata kuda.

Seringkali keberuntungan terjadi karena “situasi yang disiapkan”. Situasi yang siap menerima kemungkinan-kemungkinan peluang. Proses penemuan benua Amerika oleh penjelajah legendaris Columbus, bisa menjadi ilustrasinya. Columbus mengambil jalur lain dari jalur-jalur yang sebelumnya ditempuh banyak penjelajah. Meskipun ia berpikir tentang suatu daerah di Asia, tapi ia tentu siap dengan kemungkinan tak terduga. Ia mengharapkan hal-hal yang tak terduga. Dan kemudian ia menemukan daerah baru, Amerika.

Dalam cara berpikir kreatif, acak dan kekacauan (segala pekerjaan yang tidak direncanakan sampai ha-hal kecil yang detil), bisa jadi adalah persemaian kebetulan-kebetulan dan keberuntungan yang bisa menjadi peluang lain. William Shakespeare punya kalimat indah untuk hal tersebut : “Keberuntungan hinggap di sebagain kapal yang tidak dikemudikan”

1 comment

  1. Liez posted on June 9, 2010:

    hi, postingannya oke…menggugah. kutunggu postingan lain.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



Read more

«