Inspirasi mata waktu ke-3 : Manik-manik pengetahuan itu sudah diterima
“Manik-manik pengetahuan itu sudah diterima, hanya tinggal merangkainya menjadi kalung”
(Kenneth Earl Wilber Jr, Penulis Amerika, 1949 – )
1. Carilah gagasan di sekitar kita
Seringkali gagasan-gagasan segar ada di sekitar kita, namun kita tidak menyadarinya. Banyak hal begitu gampang lepas dari perhatian kita, karena kita kerap memandang sebelah mata segala sesuatu yang sudah biasa dan dekat dengan kita. Mampu memperhatikan hal-hal yang biasa, (barangkali) sepele dan dekat dengan kita dan menempatkannya sebagai sumber gagasan, memang memerlukan kesadaran dan kebiasaan.
Apa yang ada disekitar kita : gejala-gejala alam, kebiasaan makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungan, interaksi hewan dalam komunitasnya dan sebagainya, merupakan sumber-sumber gagasan yang kaya. Sudah banyak penemuan yang diterapkan sebagai analogi dari gejala-gejala yang ada di sekitar kita. Radar, misalnya, ditemukan dari mempelajari cara kelelawar memantulkan gelombang bunyi sebagai panduan terbangnya. Model pintu pesawat kargo diilhami dari cara kerang membuka cangkangnya. Bahkan model interaksi komunal dan organisasi manusia pun sesungguhnya sering mengambil analogi dari perilaku hewan : misalnya pembagian kerja pada lebah dan semut, jaringan laba-laba dll.
Kuncinya adalah kepekaan kita untuk membaca metafora dan analogi alam. Dan untuk bisa membaca metafora dan analogi tersebut, kita harus membuka mata dan pikiran. Ada banyak sumber gagasan disekitar kita, tidak perlu jauh-jauh mencari. Dan memang sudah menjadi kodrat manusia memiliki kemampuan untuk mengamati alam dan mengambil berbagai analogi untuk diterapkan pada kehidupannya. Tapi mengamati dan memikirkan sesuatu sebagai hal yang baru adalah sebuah ketrampilan. Alih-alih mengamati hal-hal yang baru, kita seringkali memikirkan sesuatu dengan menggali kembali apa yang telah dipikirkan orang lain. Boleh jadi hal itu tidak akan membawa pikiran kita kepada gagasan-gagasan dan pikiran baru, kecuali kita menemukan sesuatu yang lain dari apa yang telah dipikirkan dan ditemukan orang lain itu. Bagaimanapun, intinya adalah mencari dan kemudian kepintaran untuk menemukan. Bicara mengenai pentingnya mencari, berikut adalah sebuah ilustrasi yang merupakan cerita dari Seribu Satu Malam, yang dikisahkan dalam buku Menulis Dengan Emosi, karya Carmel Bird.
Seorang pedagang di Bagdad tinggal di rumah berhalaman marmer abu-abu, di jalan berbatu yang dipagari pohon palem. Di ujung halaman rumah itu, di bawah pohon anggur yang sedang berbunga, ada air mancur yang dihiasai marmer putih. Suatu malam pedagang itu bermimpi, dalam mimpinya dia disuruh berangkat ke Kairo untuk mencari peruntungan. Dia pun mengiuti impiannya itu. Dalam perjalannya ke kairo, karena kelelahan dia tertidur di halaman mesjid, tapi naas dituduh masuk dan merampok rumah di sebelahnya. Dia dipenjarakan. Saat diiterogasi dia menceritakan kepada polisi bahwa dia sekedar mengikuti mimpinya.
“Bodoh”, kata polisi itu, bukankah mimpimu itu hanya membawamu ke penjara ini saja? Aku sendiri bermimipi tiga kali, tetapi aku tidak segampang dan sebodoh itu mengkuti mimpiku”.
“Bagaimana mimpi Anda?”
Dalam mimpiku aku disuruh pergi ke Bagdad. Di sana aku akan menemukan rumah berlantai abu-abu. Di ujung halaman, di bawah rerimbunan pohon anggur, terdapat air mancur berhiaskan marmer putih. Di bawah air mancur itu terkubur harta melimpah”.
Pedagang itu yakin bahwa yang dimaksudkan Polisi itu dalam mimpinya adalah rumahnya. maka dia bergegas kembali ke rumahnya di Bagdad, menggali tanah di bawah air mancur, dan ternyata dia memang menemukan harta karun.
2. Tak ada yang salah dengan kreasi Anda.
Keberanian berkreasi akan membuka peluang pada sesuatu yang baru, atau setidaknya gagasan-gagasan antara untuk tujuan yang lebih besar. Tak ada yang salah dengan percobaan. Tak ada yang keliru dengan kreasi. Yang ada, barangkali hanya pandangan aneh bahwa sesuatu tampak asing di mata orang lain. Tapi menyadari bahwa tak akan lahir sebuah cara atau produk baru tanpa suatu kreasi, maka kreasi adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan.
Robert Goddart, dalam proses kreatifnya menciptakan roket, sering mendapat ejekan dari orang – orang di sekitarnya. Ia mendapat julukan sebagai “Si Roket Bulan”, karena apa yang ia kerjakan tampak aneh bagi orang- orang yang tak pernah peduli pada apa yang disebut berkreasi. Memang kebanyakan orang hanya peduli pada upaya untuk “menikmati” tanpa mau bersusah payah untuk berkreasi. Tapi sebagai ilmuwan besar, Goddart tidak peduli. Ia terus berkreasi dan belajar dari kegagalan, sampai akhirnya orang mengenangnya sebagai penemu roket, pembuka cakrawala baru dunia antariksa.
Berkreasi berarti berani melakukan kesalahan. Jika sebuah kreasi adalah cara untuk menemukan kesalahan, berarti pula ia merupakan cara untuk menemukan jalan keluar. Sebagai sebuah proses, berkreasi (dan akhirnya menemukan sesuatu yag baru) selalu melewati tahap – tahap berikut : membuat atau mengerjakan sesuatu – melakukan kesalahan (dan menyadarinya) – memperbaiki- (dan akhirnya) menghasilkan sesuatu yang baru. Tentu saja proses menghasilkan sesuatu melalui kreasi bisa berlangsung dalam tangga proses yang panjang dan lama.
Penulis John Steinbeck, punya kebiasaan berkreasi dengan menulis memenuhi kertas dan kemudian membuang kertas-kertas itu. Apa yang ditulisnya? ternyata ia terus menerus berlatih dan berkreasi untuk menemukan penggambaran yang tepat tentang cuaca di luar, suasana kamarnya, tata letak mebelair di ruangannya dan lain sebagainya. Ia terus menerus berkreasi. Ia terus menerus mencoba menemukan kesempurnaan untuk tulisannya. Dan pada akhirnya ia mendapatkan hal itu.
1 comment
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Read more
« Inspirasi mata waktu ke-2 : Biarkan dengan ringan hidupmu menari
Inspirasi mata waktu ke-4 : Melalui keragu-raguan menuju ke aksioma kepastian »


Hi, interest post. I’ll write you later about few questions!