Inspirasi mata waktu ke-8 : Ujian terbesar di dunia ini adalah menanggung kekalahan tanpa kehilangan hati
“Ujian terbesar di dunia ini adalah menanggung kekalahan tanpa kehilangan hati”
(Robert Green Ingersoll, Lawyer-orator- penulis Amerika, 1833 – 1899)
1. Perluas batasan kegagalan
Seorang wartawan bertanya kepada Thomas Alva Edison ketika jumlah kegagalan yang dia lakukan dalam percobaan membuat bola lampu sudah mencapai 9.999 kali, “Apakah anda akan terus melakukan kegagalan sampai 10. 000 kali?” Dan Edison menjawab : “Saya belum gagal, saya hanya menemukan 10 ribu cara yang tidak bisa digunakan”. Bisa saja orang berpikir betapa naifnya dia, karena nyata-nyata telah mengalami kegagalan namun tidak mengakuinya. Tapi sebagaimana kemudian terjadi, pada akhirnya dia memang berhasil menemukan bola lampu impiannya, setelah bertahan melewati kegagalan terus menerus. Sesungguhnya, apa yang membuat dia bisa sedemikian ringan menafikan kegalan-kegagalannya dan pada akhirnya mencapai garis finis keberhasilan? Bagaimana dia bisa sedemikain tahan terhadap kegagalan-kegagalan?
Kunci dari kemampuan Edison menafikan kegagalan adalah kemampuannya bersahabat dengan kegagalan itu dengan membuat batasan yang luas (dan bahkan mungkin sangat luas) tentang kegagalan. Sebagaimana jawaban bijak yang dia kemukakan tentang arti kegagalan, dia tidak membatasi kegagalan pada nominal tertentu. Apakah angka 9.999 kali adalah angka finis untuk menghentikan usahanya? Ternyata tidak. Dan itulah yang terus menerus memacunya untuk meneruskan usaha. Edison memperluas batasan nominal jumlah kegagalan dengan tidak berhenti pada angka tertentu.
Batasan dan definisi gagal dapat muncul dari banyak hal, meskipun substansinya sama, yaitu tidak memberi kesempatan pada mental dan pikiran untuk berusaha keluar mencari jalan keberhasilan. Batasan itu mengerdilkan, untuk kemudian membuat kita menyerah kepadanya. Kalau kita sadari, banyak sekali batasan dan definisi tentang kegagalan yang membuat kita gampang menyerah, seperti :
a. Batasan nominal jumlah kegagalan;
Membatasi usaha sampai pada nominal kegagalan tertentu akan menutup spirit untuk meneruskan usaha. Bisa saja kita mengatakan,”saya akan mencobanya, sampai kegagalan yang ke-100 kali”. Beruntunglah, seandainya sebelum kegagalan yang ke-100 kita sudah berhasil mencapai tujuan itu. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Bukankah itu akan menutup kemungkinan menemukan titik keberhasilan? Hal bijak yang bisa kita usahakan adalah : biarlah kegagalan berhenti sendiri, entah pada nominal keberapa, dan selanjutnya kita temukan keberhasilan.
b. batasan usia untuk melegitimasi kegagalan;
Colonel Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken, menawarkan resep ayam buatannya dalam usia 60 tahun, saat orang – orang lain seusianya sudah mengambil keputusan untuk pensiun. Ia tetap melakukan usahanya, karena ia sama sekai tidak berpikir tentang batasan usia. Tentu Colonel Sanders tidak sekali dua kali mengalami kegagalan, tapi ia tidak berdalih dalam memaknai kegagalan yang menimpanya, untuk kemudian menyerah karena ia merasa sudah tua.
c. batasan/definisi tentang kegagalan itu sendiri;
Seorang Thomas Alva Edison, tidak mendefinisikan kegagalan sebagai monster yang melumpuhkan dan membunuh semangatnya. Ia menganggap kegagalan yang dialaminya sebagai : “ cara yang tidak bisa digunakan”, sehingga ia merasa perlu menemukan “cara lain yang bisa digunakan”. Mendefinisikan suatu obyek adalah membuat gambaran dalam pikiran tentang obyek bersangkutan. Dan bagaimana kita membuat gambaran dalam pikiran tentang suatu obyek akan mempengaruhi sikap kita terhadap obyek itu. Demikian pula, bagaimana kita mengambarkan kegagalan dalam pikiran kita akan mempengaruhi pandangan kita terhadap kegagalan tersebut, dan selanjutnya, secara umum akan mempengaruhi pandangan kita tehadap usaha yang sedang kita lakukan. Tentu kita pernah mendengar ujaran berikut : “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Ujaran tersebut hanyalah salah satu cara untuk membuat pikiran menggambarkan kegagalan semata-mata bukanlah suatu monster yang punya kekuatan untuk menghentikan, tapi sebaliknya, akan membuat gambaran kegagalan sebagai titik pengharapan karena dibaliknya masih ada kemungkinan untuk berhasil. Tapi persoalan sesungguhnya terhadap definisi kegagalan adalah, seberapa kuat pikiran mengendalikan kegagalan dengan “nafsu membunuhnya” itu.
Selain alasan-alasan diatas, alasan – alasan lain yang mengijinkan kegagalan membunuh usaha kita masih sering kita kemukakan. Untuk mencegahnya adalah, jangan buat batasan yang sempit terhadap kegagalan. Perluas batasan tentang kegalan. Maka tepatlah apa yang dikemukan Charles R. Swindoll, seorang Penulis Amerika, bahwa : “ Hidup ini 10% apa yang terjadi dan 90% adalah strategi mengatasi apa yang terjadi”. Pada konteks ini, kegagalan yang menimpa kita sesungguhnya hanya akan mengambil porsi 10 % dan yang 90% adalah cara kita menyikapi kegagalan itu.
2. Berpikirlah lain tentang kecaman
Kekalahan sering mendatangkan kecaman. Tapi itu wajar, karena disadari atau tidak seringkali ada orang-orang di sekitar kita yang berharap banyak pada apa yang kita usahakan. Apalagi jika kita merupakan “perwakilan resmi” dari kepentingan banyak orang. Kecaman dan kritik sesungguhnya seperti pisau. Bisa saja ia menjadi alat pembunuh, tapi sebaliknya ia bisa menjadi alat yang berguna. Kecaman dan kritik tidak akan menjadi “pisau yang membunuh” bagi mental dan pikiran jika kita bisa menyikapinya dengan bijaksana. Hal tersebut sangat tergantung dari bagaimana kita memperlakuan suatu kecaman. Kecaman tidak akan menyakitkan (dan barangkali justru akan mendapatkan manfaat) jika kita mampu bersikap wajar terhadap kecaman maupun orang yang mengecam.
Prinsip yang perlu dipegang untuk membuat kecaman menjadi sesuatu yang tidak menyakitkan adalah :
a. Jangan anggap sebagai serangan pribadi;
Jika kecaman dan kritik kita respon sebagai serangan pada kepribadian kita, kita akan cenderung menanggapinya secara emosional. Dengan demikian kita justru akan mudah kehilangan fokus terhadap isi kritik bersangkutan. Barangkali kritik yang dilontarkan hanya menyangkut masalah sepele, jauh dari substansi persoalan, tapi jika kita menanggapinya dengan emosional, pikiran kita akan hanyut.
b. Posisikan si pengecam sebagai orang yang lebih paham;
Orang sering mengecam berdasarkan masalah yang ia lihat, bukan solusi dari masalah itu. Dengan demikian kita justru punya peluang untuk membuat umpan balik kecaman tersebut. Daripada bersikap defensif terhadap kecaman yang datang pada kita, lebih baik ajukan balik persoalan yang dikecamkan. Bukankah si pengecam akan lebih merasa tersanjung jika kita mengatakan, “Jadi, menurut anda jalan keluar seperti apa yang mesti saya lakukan?” Sikap demikian akan membawa kesan bahwa kita menempatkan si pengecam sebagai orang yang lebih paham terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Tentu sikap itu harus didasari ketulusan bahwa kita memang memerlukan jalan keluar, bukan sekedar menyenangkan orang yang mengecam kita atau bahkan menjebak dan mempermalukannya dengan berharap dia tidak punya jawaban terhadap tawaran tersebut.
c. Komitmen pada tujuan akhir;
Seringkali rencana, ide dan strategi yang cemerlang justru menjadi mentah dan tidak bisa dilaksanakan hanya karena kita menghabiskan waktu dan energi untuk perdebatan yang terus menerus. Perdebatan sering hanya berpijak dari ego mengenai cara mana yang akan ditempuh. Cara dan metode hanyalah jalan untuk memperoleh hasil akhir, sehingga apapun metode dan cara yang diambil hanya akan terbukti efektif jika hasil akhir sudah tercapai. Jika anda mengusulkan suatu rencana A untuk tujuan B dan rekan anda mengusulkan rencana C untuk tujuan yang sama (B), lebih baik hindari perdebatan berkepanjangan mengenai cara mana yang akan diambil. Jika bisa digabungkan, hasil yang ingin dicapai memiliki kemungkinan keberhasilan yang lebih cepat dan lebih besar.
3. Tertawakanlah diri sendiri
Seringkali kita tergantung pada sesuatu yang lain (entah tontonan, bacaan, suara yang lucu dll) untuk tertawa. Dan itu artinya tawa kita bersyarat. Tapi menertawakan diri sendiri adalah tindakan spontan dan itu lebih bebas karena kita tidak tergantung kepada hal lain di luar kita. Selain menyegarkan mental dan pikiran, menurut Robert Provine, seorang neurosaintis, tertawa juga mengandung manfaat – manfaat aerobik. Tertawa mengaktifkan sistem jantung dan urat darah, meningkatkan kecepatan jantung, meningkatkan kinerja pemompaan darah ke bagian-bagian organ tubuh yang lebih dalam.
Kemampuan menertawakan diri serta kesalahan sendiri, menjadi semacam kran yang akan melancarkan kembali simpul-simpul kemampatan hidup. Kemampuan menertawakan diri adalah kemampuan menangkap humor atas kejadian yang menimpa diri kita. Menganggap bahwa kegagalan bukanlah sebuah tragedi dan sebaliknya sesuatu yang menggelikan adalah substansi dari kemampuan menangkap humor tersebut. Dan kemampuan menganggap kegagalan bukan sebuah tragedi, tapi justru sebaliknya, akan membuat mental dan pikiran kita terus segar.
Menertawakan diri sendiri menjadi semacam cara untuk berempati, bahwa kegagalan adalah sesuatu yang lumrah terjadi.
3 comments
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Read more
« Inspirasi mata waktu ke-7 : Kehidupan yang paling menyenangkan adalah kehidupan imajinasi.
Inspirasi mata waktu ke-9 : Lakukanlah selalu apa-apa yang takut kau lakukan »


Artikel yg menarik & inspiratif… I’ll be waiting for another post.
Inspiratif dan penuh makna. Sip boss…
Asyik sekali artikelx.. Akn kujdkn bhn utk materi2ku n prbdiku..
Kutunggu yg lbh asyk lg mas,