<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://www.matawaktu.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.matawaktu.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 May 2010 06:21:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-10 : Jejak-jejak kaki di pasir waktu, tidak dibuat sambil duduk</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=170</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=170#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 17:03:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Claude Simone]]></category>
		<category><![CDATA[Dokumentasi ide]]></category>
		<category><![CDATA[James Lee Valentine]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak-jejak]]></category>
		<category><![CDATA[John Hunter]]></category>
		<category><![CDATA[Manfaatkan kebetulan]]></category>
		<category><![CDATA[Mimeograf]]></category>
		<category><![CDATA[Tindaklanjuti ide]]></category>
		<category><![CDATA[William Shakespeare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Jejak-jejak kaki di pasir waktu, tidak dibuat sambil duduk&#8221; 
(James Lee Valentine, motivator &#8211; penulis)

1. Tindaklanjuti  ide dan pemikiran dengan segera 
Tentu kita tidak bisa menyangkal pentingnya sebuah impian, rencana, pemikiran, maupun konsep dalam perjalanan mengejar suatu tujuan. Semua itu menjadi dasar dan pijakan  serta seringkali memberi gambaran mengenai gerak dan arah pekerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>&#8220;Jejak-jejak kaki di pasir waktu, tidak dibuat sambil duduk&#8221; </em></strong><br />
(James Lee Valentine, motivator &#8211; penulis)<br />
<img src="http://i669.photobucket.com/albums/vv55/mata-waktu/Embun_2.jpg"width="165" height="124" class="alignleft size-full wp-image-62" /><br />
<strong>1. Tindaklanjuti  ide dan pemikiran dengan segera </strong></p>
<p>Tentu kita tidak bisa menyangkal pentingnya sebuah impian, rencana, pemikiran, maupun konsep dalam perjalanan mengejar suatu tujuan. Semua itu menjadi dasar dan pijakan  serta seringkali memberi gambaran mengenai gerak dan arah pekerjaan yang akan kita lakukan. Tapi terus menerus berkutat dengan impian dan pemikiran, tidak akan membawa kita kemanapun.  Harus ada batas yang jelas antara berpikir dan merencanakan dengan aksi/melaksanakan. Maksud saya, harus diberi batasan waktu, sampai kapan sebuah pekerjaan direncanakan/dipikirkan dan kemudian dieksekusi ke dalam tindakan. Memikirkan suatu rencana dan ide seperti duduk di kusi goyang. Kita merasakan getarannya dan kita terbuai oleh gerakan-gerakan itu tapi kita tidak ke mana-mana. Benar bahwa suatu pekerjaan atau penemuan besar selalu diawali dengan mimpi dan pemikiran. Tapi apalah artiya pemikiran itu, kalau tidak ditindak lanjuti. </p>
<p>Dalam aksi (eksekusi pemikiran ke dalam tindakan), semua hal yang sebelumnya menjadi pemikiran dan konsep bisa diterapkan. Seringkali detil–detil <span id="more-170"></span> justru akan lahir dan ditemukan ketika suatu pemikiran diaplikasikan ke dalam tindakan. Itu karena selama proses berpikir  semua  realita (yang mungkin ditemui dalam melaksanakan pekerjan) tidak selalu bisa digambarkan. </p>
<p>Menindaklanjuti sebuah pemikiran (bahkan yang belum selesai) ke dalam tindakan, seringkali lebih menantang dan menggairahkan, karena dalam tindakan tersebut sekaligus ada proses berpikir yang terus menerus. Dalam proses pengerjaannya, ide mungkin dikembangkan, diadaptasi dari sumber lain, ditambahkan  atau justru diubah dan ide-ide baru dimasukkkan. Kerapkali konsep ini lebih menantang daripada mengerjakan sesuatu berdasarkan ide dan pemikiran yang telah matang. Akan lebih menantang jika kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Prinsipnya, berpikir (kreatif) harus menjadi sebuah petualangan. Memahami kapan harus berhenti (dari sekedar) berpikir dan menindaklanjuti sebuah ide seharusnya merupakan keputusan yang penting. Kenyataan bahwa memulai pekerjaan dengan konsep yang minim dan tidak memadai kemungkinan akan menyeret kita pada rasa frustasi dan lelah yang bisa menyeret pada godaan untuk menyerah. Tapi sebaiknya dicatat bahwa para pemikir besarpun sering mengalami “masa-masa gelap” ini dalam proses penciptaan karya mereka. Robert Frost, seorang sastrawan Amerika mengatakan : “Aku tidak pernah menulis puisi yang bait terakhirnya sudah aku ketahui”. Dan bahkan John Hunter, seorang ahli bedah Inggris terkenal pada abad 18, memberi nasehat yag jelas pada muridnya, Edward Jenner, saat dia berpikir dapat mencegah cacar dengan vaksinasi, “ Jangan berpikir, cobalah dengan sabar dan akurat!”. Dan selanjutnya memang terbukti, setelah bertahun-tahun Edward Jenner bekerja untuk mewujudakan pemikirannya itu, vaksin cacar yang dia pikirkan berhasil ditemukan.</p>
<p>Harus disadari bahwa ide yang sederhana tapi dilaksanakan jauh lebih bermanfaat daripada ide besar yang mengendap sekedar sebagai ide dan akhirnya mati membusuk. Entah sebuah karya sastra yang indah, gedung pencakar langit yang megah, sebuah produk kuliner yang lezat, struktur organisasi yang efisien dan sebagainya, semuanya dalah ide yang dilaksanakan. Ide yang dieksekusi ke dalam tindakan.</p>
<p><strong>2.  Buatlah dokumentasi atas ide/pemikiran </strong></p>
<p>Apakah kita berpikir bahwa jejak kaki di pasir akan selamanya ada? Tentu saja tidak, karena pada saatnya angin dan ombak akan mengapusnya. Sebagaimana suatu jejak di pasir akan segera sirna karena ombak, sebuah ide dan pemikiran juga akan mudah hilang dihapus ombak waktu bila tidak didokumentasikan. </p>
<p>Hidup adalah lautan ide. Dan ide itu bertebaran dimana – mana disekitar kita. Tinggal bagaimana respon kita rerhadap gejala dan fenomena dimana sebuah ide berasal. Seorang pemikir kreatif adalah seorang yang tidak pernah kehabisa ide, karena ia mampu menganalisa, mensintesa, membayangkan dan akhirnya menilai gejala-gejala. Dalam kehidupan yang penuh lautan ide, membuat catatan adalah tindakan yang penting.  Barangkali kita sering mengalami, saat akan tidur tiba-tiba menemukan sebuah ide/pemikiran, tapi mekanisme reflek otak kita memerintahkan untuk menyimpan dalam pikiran dan mengungkapkan kembali esok hari. Tapi apa yang terjadi? Karena keesokan harinya otak  sudah dipenuhi rangsangan pikiran-pikiran lain, maka ide yang terlintas dalam otak kita semalam akan lenyap begitu saja. </p>
<p>Sumber ide adalah segala hal yang bisa kita tangkap dengan indra. Entah ide mentah lain, kutipan-kutipan, percakapan, sesuatu yang kita dengar dan lihat di televisi, pidato seorang tokoh atau sumber-sumber lain. Mencatat ide akan memberikan kesempatan pada kita untuk merenungkan ulang dan megembangkanya menjadi sebuah ide dan pemikiran yang lebih besar. Begitu sebuah ide/pemikiran ada dalam catatan kita, kita akan spontan bereaksi mencocokkannya secara personal dengan ide-ide lain dan pengaruh –pengaruh yang datang pada kita.  Dan itu akan menimbulkan rangsangan persemaian ide-ide baru. </p>
<p>Tidak perlu dipersoalkan apakan catatan yang kita buat itu penting/tidak penting atau menarik/tidak menarik. Reaksi yang perlu kita perhatikan adalah apakah bahan itu  mengesankan atau tidak saat kita mendengar, melihat/membaca dan merasakannya. Penting atau tidak itu sangat berhubungan dengan konteks waktu.</p>
<p>Claude Simone, seorang penulis Perancis, meyatakan bahwa  untuk mengumpulkan bahan untuk sebuah novel, sebenarnya cukup hanya mengitari sebuah blok di kotanya. Setelah pulang, tuliskan semua yang didengar, dirasakan, diingat, dipikirkan dan seterusnya dan itu semua sudah cukup. Kedengarannya itu berlebihan, tapi yang ingin ditekankannya adalah bahwa sumbe ide itu ada dimana-mana dan yang perlu dilakukan adalah mendokumentasikannya dengan tulisan.</p>
<p><strong>3.  Manfaatkan kebetulan menjadi sebuah peluang </strong></p>
<p>Dunia dan kehidupan  adalah lautan kesempatan dan peluang. Segala unsur memberi kesempatan kepada kita untuk dikembangkan dan dimanfaatkan. Kembali kepada prinsip berpikir dan  bertindak kreatif yang selalu melibatkan proses mensitesa, menganalisa, membayangkan serta  menilai, proses itu selalu bisa diterapkan kepada semua unsur dalam hidup kita, dalam setiap kesempatan. </p>
<p>Kesempatan tidak selalu berarti sekedar kesempatan atas apa yag kita fokuskan pada tujuan yang kita kejar. Cara berpikir kreatif menuntut kita untuk selalu memiliki rentang perhatian yang lebar. Rentang perhatian yang memungkinkan kesempatan datang melalui jalan lain atau bahkan menemukan kesempatan/peluang lain diluar apa yang kita kejar. Jika kita berpikir terlalu sempit, barangkali tak banyak peluang yang kita temui, karena kita hanya berpikir tentang satu jalan. Semakin banyak jalan, tentu semakin banyak peluang yang bakal kita temui.  Dan seringkali peluang jenis ini datang sebagai sebuah kebetulan. </p>
<p>Hal yang kita perlukan adalah kepekaan dan pikiran lebar untuk membaca kebetulan dan mengkonstruksinya menjadi peluang. Apakah anda mengira bahwa Alfa Edison menemukan mimeograf (mesin stensil) saat dia mengejar penemuan tentang alat itu? Tidak, Edison justru sedang mencari hal lain saat ia menemukan ide tentang mimeograf . Intusinya yang kuat menuntun dia berpikir bahwa alat tersebut akan sangat berguna dan menjadi penemuan baru. </p>
<p>Kita seringkali mendefiniskan kebetulan sebagai sebuah keberuntungan. Tapi dalam konteks ini, keberuntungan (yang kemudian menjadi peluang) datang pada pikiran yang siap, pikiran yang cermat dan jeli, pikiran yang terbuka lebar. Kebetulan dan keberuntugan tidak datang pada pikiran yang tertutup. Pikiran dengan rentang perhatian yang sempit. Pikiran yang diselubungi kacamata kuda. </p>
<p>Seringkali keberuntungan terjadi karena “situasi yang disiapkan”. Situasi yang siap menerima kemungkinan-kemungkinan peluang. Proses penemuan benua Amerika oleh penjelajah legendaris Columbus, bisa menjadi ilustrasinya. Columbus mengambil jalur lain dari jalur-jalur yang sebelumnya ditempuh banyak penjelajah. Meskipun ia berpikir tentang suatu daerah di Asia, tapi ia tentu siap dengan kemungkinan tak terduga. Ia mengharapkan hal-hal yang tak terduga. Dan kemudian ia menemukan daerah baru, Amerika. </p>
<p>Dalam cara berpikir kreatif, acak dan kekacauan (segala pekerjaan yang tidak direncanakan sampai ha-hal kecil yang detil), bisa jadi adalah persemaian kebetulan-kebetulan dan keberuntungan yang bisa menjadi peluang lain. William Shakespeare punya kalimat indah untuk hal tersebut : <em>“Keberuntungan hinggap di sebagain kapal yang tidak dikemudikan”</em><em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=170</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-9 : Lakukanlah selalu apa-apa yang takut kau lakukan</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=156</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=156#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 14:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Akrabi hal-hal yang berlawanan]]></category>
		<category><![CDATA[Francis Bacon]]></category>
		<category><![CDATA[Henry Ward Beecher]]></category>
		<category><![CDATA[Hermann Hesse]]></category>
		<category><![CDATA[Melangkah terus]]></category>
		<category><![CDATA[Melawan ketakutan]]></category>
		<category><![CDATA[Pablo Picasso]]></category>
		<category><![CDATA[Santo Fransiskus]]></category>
		<category><![CDATA[Temukan paradoksnya]]></category>
		<category><![CDATA[William Shakespeare]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[“Lakukanlah selalu apa-apa yang takut kau lakukan”
(Ralph Waldo Emerson, Esais – penyair &#8211; filsuf Amerika, 1833 &#8211; 1899)
 1. Melangkah terus
Ketakutan selalu seperti virus yang terus menyebar dan semakin membesar jika kita tidak melawannya. Dan ironisnya ketakutan sering tidak beralasan. Salah satu cara melawan ketakutan adalah mengisolasinya sehingga tidak sampai, dengan kronis, mempengaruhi pikiran.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>“Lakukanlah selalu apa-apa yang takut kau lakukan”</em></strong><br />
(Ralph Waldo Emerson, Esais – penyair &#8211; filsuf Amerika, 1833 &#8211; 1899)</p>
<p><img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/Bastnasite-Ce.jpg" width="165" height="124" class="alignleft size-full wp-image-62" /> <strong>1. Melangkah terus</strong></p>
<p>Ketakutan selalu seperti virus yang terus menyebar dan semakin membesar jika kita tidak melawannya. Dan ironisnya ketakutan sering tidak beralasan. Salah satu cara melawan ketakutan adalah mengisolasinya sehingga tidak sampai, dengan kronis, mempengaruhi pikiran.  Melangkah terus  adalah cara yang paling tepat untuk mengisolasi sekaligus tidak membiarkan ketakutan berkembang. Melangkah terus dan yakin atas apa yang kita lakukan akan memperbesar rasa percaya diri kita, sehingga vaksin terhadap virus ketakutan  akan semakin kuat. </p>
<p>Ketika kita berhenti mengerjakan sesuatu yang menantang, sesuatu yang berisiko, kita justru sering terjebak pada ketakutan dan kekhawatiran, karena <span id="more-156"></span>pikiran memberi kesempatan pada  ketakutan dan kekhawatiran itu untuk berkembang. Ketakutan, sesungguhnya merupakan kondisi pikiran. Ketakutan lahir dari pikiran. Mungkin saja karena kita ciptakan sendiri berdasar prasangka dan angan – angan, atau karena pengaruh  dari luar. Namun dari manapun  sumber ketakutan itu, pikiran kita sendirilah yang berperan memelihara dan membesarkannya. </p>
<p>Maka sebagaimana pikiran melahirkan dan membesarkan ketakutan, sesungguhnya pikiran pula yang mampu menghentikan dan mematikannya.  Cara terbaik untuk melenyapkan virus ketakutan, adalah dengan menguatkan keyakinan bahwa  ketakutan kita  sesungguhnya tidak nyata dan tidak beralasan. Ini berarti pula kita sepenuhnya mengendalikan pikiran sehingga hanya berisi hal-hal yang baik, hal – hal yang memotivasi dan memberi harapan, sehingga menimbulkan keberanian.</p>
<p>Melangkah terus dalam melakukan sesuatu yang menimbulkan rasa takut dan kekhawatiran menjadi cara yang tepat sebagai terapi pikiran, agar pikiran tidak memelihara ketakutan lebih besar, baik karena prasangka dari dalam pikiran itu sendiri maupun karena stimulasi dari luar. </p>
<p><strong>2. Akrabi  dan pahamilah hal-hal yang berlawanan</strong></p>
<p>Kita harus menyadari bahwa dalam kehidupan selalu ada hal-hal yang berlawanan. Dan itu saling menentukan dan memberi informasi. Adalah tidak mudah  memahami makna keberanian tanpa mengerti ketakutan, ketenangan tanpa kegelisan, keberhasilan tanpa kegagalan, besar tanpa kecil, kemenangan tanpa kekalahan, kebahagiaan tanpa kesedihan dll. Kita pasti sulit memahami satu kutub dari dua keadaan berlawanan tersebut tanpa berpikir tentang konsep kutub yang lain. Kita sulit memahami sesuatu tanpa mengerti atau mengalami sebaliknya.</p>
<p>Misalnya, kita punya keyakinan untuk meneguhkan keberanian karena kita paham tentang ketakutan. Kita sadar betapa nikmatnya keberhasilan karena sebelumnya  kita  mengalami  kegagalan. Jadi, pada dasarnya sesuatu ada karena sebaliknya. Kita merasakan sesuatu dengan membandingkan dengan lawannya. Demikianlah, kondisi kehidupan tak pernah berjalan sendirian. Selalu berpasangan, selalu saling menggantikan, sebagaimana yang dikatakan Hermann Hesse, seorang novelis dari Jerman : “Setiap kehidupan itu mekar dan berkembang hanya melalui pembelahan dan kontradiksi”. Jadi pikirkan keberanian, karena kita tahu apa itu ketakutan dan akibat-akibatnya.</p>
<p><strong>3. Temukan paradoksnya</strong></p>
<p>Paradoks menggugah kita untuk berpikir dan merangsang kita masuk dalam pemikiran  kreatif.  “Memahami paradoks” berarti menimbang dua hal yang saling berlawanan bekerja bersama dalam satu proses. Hal – hal yan paradoksal –termasuk kata-kata bijak orang-orang terkenal—memaksa kita untuk melepaskan satu titik sudut pandang yang semula kita yakini, kemudian beralih ke sudut pandang yang lain. </p>
<p>Bisakah kutipan – kutipan berikut ini menuntun kita pada sudut pandang baru? William Shakespeare : “Keberuntungan hinggap pada sebagian kapal yang tidak dikemudikan”, Francis Bacon : “Jika seseorang memulai dengan keyakinan, dia akan berakhir dengan keraguan, tetapi jika dia mau memulai dengan keraguan dia akan berakhir dengan keyakinan”, Santo Fransiskus : “ Dalam memberi itulalah kita menerima, dalam mengampuni itulah kita diampuni”, Henry Ward Beecher : “Yang membuat kita kaya di dunia ini bukan apa yang kita ambil, tapi apa yang kita berikan”, John Jeremiah Daniell : “Yang miskin bukan yang punya sedikit, tetapi yang punya banyak keinginan”, Helen Keller : “ Aku ingin sekali melakukan sesuatu yang besar dan mulia, tetapi tugas utamaku adalah melakukan hal-hal kecil dan menganggapnya sebagai sesuatu yang besar dan mulia”, Pablo Picasso : “Seni adalah kebohongan yang membuat kita menyadari kebenaran”. Dan akhirnya, sudut pandang baru seperti apa yang bisa kita ambil dari kutipan berikut : “Lakukanlah selalu apa-apa yang takut kau lakukan”</P></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=156</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-8 : Ujian terbesar di dunia ini adalah menanggung kekalahan tanpa kehilangan hati</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=137</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=137#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 17:06:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Charles R. Swindoll]]></category>
		<category><![CDATA[Kegagalan bukan tragedi]]></category>
		<category><![CDATA[Menanggung kekalahan]]></category>
		<category><![CDATA[Menyikapi kecaman dan kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Robert Green Ingersoll]]></category>
		<category><![CDATA[Tertawakan diri sendiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[“Ujian terbesar di dunia ini adalah menanggung kekalahan tanpa kehilangan hati”
(Robert Green Ingersoll, Lawyer-orator- penulis Amerika, 1833 &#8211; 1899)
1. Perluas batasan kegagalan
Seorang wartawan bertanya kepada Thomas Alva Edison ketika jumlah kegagalan yang dia lakukan dalam percobaan membuat bola lampu  sudah mencapai 9.999 kali, &#8220;Apakah anda akan terus melakukan kegagalan sampai 10. 000 kali?&#8221; Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>“Ujian terbesar di dunia ini adalah menanggung kekalahan tanpa kehilangan hati”</em></strong><br />
(Robert Green Ingersoll, Lawyer-orator- penulis Amerika, 1833 &#8211; 1899)</p>
<p><img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/Clock_tile.jpg" width="130" height="166" class="alignleft size-full wp-image-62" /><strong>1. Perluas batasan kegagalan</strong></p>
<p>Seorang wartawan bertanya kepada Thomas Alva Edison ketika jumlah kegagalan yang dia lakukan dalam percobaan membuat bola lampu  sudah mencapai 9.999 kali, <em>&#8220;Apakah anda akan terus melakukan kegagalan sampai 10. 000 kali?&#8221;</em> Dan  Edison menjawab : <em>&#8220;Saya belum gagal,  saya hanya menemukan 10 ribu cara yang tidak bisa digunakan”</em>. Bisa saja orang berpikir betapa naifnya dia, karena nyata-nyata telah mengalami kegagalan namun tidak mengakuinya. Tapi sebagaimana kemudian terjadi, pada akhirnya dia memang berhasil menemukan bola lampu impiannya, setelah bertahan melewati kegagalan terus menerus. Sesungguhnya, apa yang membuat dia bisa sedemikian ringan menafikan kegalan-kegagalannya dan pada akhirnya mencapai garis finis keberhasilan? Bagaimana dia bisa sedemikain tahan terhadap kegagalan-kegagalan?</p>
<p>Kunci dari kemampuan Edison menafikan kegagalan adalah kemampuannya bersahabat dengan kegagalan itu dengan membuat batasan yang luas (dan bahkan mungkin sangat luas) tentang kegagalan.  Sebagaimana jawaban bijak yang dia kemukakan tentang <span id="more-137"></span>arti kegagalan, dia tidak membatasi kegagalan  pada nominal tertentu. Apakah angka 9.999 kali adalah angka finis untuk menghentikan usahanya? Ternyata tidak. Dan itulah yang terus menerus memacunya untuk meneruskan usaha. Edison memperluas batasan nominal jumlah kegagalan dengan tidak berhenti pada angka tertentu. </p>
<p>Batasan dan definisi gagal dapat muncul dari banyak hal, meskipun  substansinya sama, yaitu tidak memberi kesempatan pada mental dan pikiran untuk berusaha keluar mencari jalan  keberhasilan. Batasan itu mengerdilkan,  untuk kemudian membuat kita menyerah kepadanya. Kalau kita sadari, banyak sekali batasan dan definisi tentang kegagalan yang membuat kita gampang menyerah, seperti :</p>
<p>a. Batasan nominal jumlah kegagalan;<br />
Membatasi usaha sampai   pada nominal kegagalan tertentu akan menutup spirit untuk meneruskan usaha. Bisa saja kita mengatakan,”saya akan mencobanya, sampai kegagalan yang ke-100 kali”. Beruntunglah, seandainya sebelum kegagalan yang ke-100 kita sudah berhasil mencapai tujuan itu. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Bukankah itu akan menutup kemungkinan menemukan titik keberhasilan? Hal bijak yang bisa kita usahakan adalah : biarlah kegagalan berhenti sendiri, entah pada nominal keberapa, dan selanjutnya kita temukan keberhasilan. </p>
<p> b. batasan  usia untuk melegitimasi kegagalan;<br />
Colonel Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken, menawarkan  resep ayam buatannya dalam usia 60 tahun,  saat orang – orang lain seusianya sudah mengambil keputusan untuk pensiun. Ia tetap melakukan usahanya, karena ia sama sekai tidak berpikir tentang batasan usia. Tentu Colonel Sanders tidak sekali dua kali mengalami kegagalan, tapi ia tidak berdalih  dalam memaknai kegagalan yang menimpanya,  untuk kemudian menyerah karena ia merasa sudah tua.</p>
<p>c. batasan/definisi tentang kegagalan itu sendiri;<br />
Seorang Thomas Alva Edison, tidak mendefinisikan kegagalan sebagai monster yang melumpuhkan dan  membunuh semangatnya. Ia menganggap kegagalan yang dialaminya sebagai : “ cara yang tidak bisa digunakan”, sehingga ia merasa perlu menemukan “cara lain yang bisa digunakan”.  Mendefinisikan suatu obyek adalah membuat gambaran dalam pikiran tentang obyek bersangkutan.  Dan bagaimana  kita membuat gambaran dalam pikiran tentang suatu obyek akan mempengaruhi sikap kita terhadap obyek itu. Demikian pula, bagaimana kita mengambarkan kegagalan dalam pikiran kita akan mempengaruhi pandangan kita terhadap kegagalan tersebut, dan  selanjutnya, secara umum  akan mempengaruhi pandangan kita tehadap usaha yang sedang kita lakukan. Tentu kita pernah mendengar ujaran berikut : “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”.  Ujaran tersebut hanyalah salah satu cara untuk membuat pikiran menggambarkan kegagalan semata-mata bukanlah suatu monster yang  punya kekuatan untuk menghentikan, tapi sebaliknya, akan membuat gambaran kegagalan sebagai titik pengharapan karena dibaliknya masih ada kemungkinan untuk berhasil. Tapi persoalan sesungguhnya terhadap definisi kegagalan  adalah, seberapa kuat pikiran mengendalikan kegagalan  dengan “nafsu membunuhnya” itu. </p>
<p>Selain alasan-alasan diatas, alasan – alasan lain yang mengijinkan kegagalan membunuh usaha kita masih sering kita kemukakan. Untuk mencegahnya adalah, jangan buat batasan yang sempit terhadap kegagalan. Perluas batasan tentang kegalan.  Maka tepatlah apa yang dikemukan Charles R. Swindoll, seorang Penulis Amerika, bahwa : “ Hidup ini 10% apa yang terjadi dan 90% adalah strategi mengatasi apa yang terjadi”. Pada konteks ini, kegagalan yang menimpa kita sesungguhnya hanya akan mengambil porsi 10 % dan yang 90% adalah cara kita menyikapi kegagalan itu.</p>
<p><strong>2. Berpikirlah lain tentang kecaman</strong></p>
<p>Kekalahan sering mendatangkan kecaman. Tapi itu wajar, karena disadari atau tidak seringkali ada orang-orang di sekitar kita yang berharap banyak pada apa yang kita usahakan. Apalagi jika kita merupakan “perwakilan resmi” dari kepentingan banyak orang.  Kecaman dan kritik sesungguhnya seperti pisau. Bisa saja ia menjadi alat pembunuh, tapi sebaliknya ia bisa menjadi alat yang berguna.  Kecaman dan kritik tidak akan menjadi  “pisau yang membunuh” bagi mental dan pikiran  jika kita bisa menyikapinya dengan bijaksana. Hal tersebut sangat tergantung dari bagaimana kita memperlakuan suatu kecaman. Kecaman tidak akan menyakitkan (dan barangkali  justru akan mendapatkan   manfaat) jika kita mampu bersikap wajar terhadap kecaman maupun orang yang mengecam.</p>
<p>Prinsip yang perlu dipegang untuk membuat kecaman  menjadi sesuatu yang tidak menyakitkan adalah :<br />
a.  Jangan anggap sebagai serangan pribadi;<br />
Jika kecaman dan kritik kita  respon  sebagai serangan pada kepribadian kita, kita akan cenderung menanggapinya secara emosional. Dengan demikian kita justru akan mudah  kehilangan fokus terhadap isi kritik bersangkutan. Barangkali kritik yang dilontarkan hanya menyangkut masalah sepele, jauh dari substansi persoalan, tapi  jika kita menanggapinya dengan emosional, pikiran kita akan hanyut. </p>
<p>b.  Posisikan si pengecam sebagai orang yang lebih paham;<br />
Orang sering mengecam berdasarkan masalah yang ia lihat, bukan solusi dari masalah itu. Dengan demikian kita justru punya peluang untuk membuat umpan balik kecaman tersebut. Daripada bersikap defensif terhadap kecaman yang datang pada kita, lebih baik ajukan balik persoalan yang dikecamkan. Bukankah si pengecam akan lebih merasa tersanjung jika kita mengatakan, “Jadi, menurut anda jalan keluar seperti apa yang mesti saya lakukan?” Sikap demikian akan membawa kesan bahwa kita menempatkan si pengecam sebagai orang yang lebih paham terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Tentu sikap itu harus didasari ketulusan bahwa kita memang memerlukan jalan keluar, bukan sekedar menyenangkan orang yang mengecam kita atau bahkan menjebak dan mempermalukannya dengan berharap dia tidak punya jawaban terhadap tawaran tersebut. </p>
<p>c. Komitmen pada tujuan akhir;<br />
Seringkali  rencana, ide dan strategi yang cemerlang justru menjadi mentah dan tidak bisa dilaksanakan  hanya karena kita menghabiskan waktu dan energi untuk  perdebatan yang terus menerus. Perdebatan sering hanya  berpijak dari ego mengenai cara mana yang akan ditempuh.  Cara dan metode hanyalah jalan untuk memperoleh hasil akhir, sehingga apapun metode dan cara yang diambil hanya akan terbukti efektif jika hasil akhir sudah tercapai. Jika anda mengusulkan suatu rencana A untuk tujuan B dan rekan anda mengusulkan rencana C untuk  tujuan yang sama (B), lebih baik hindari perdebatan berkepanjangan mengenai cara mana yang akan diambil. Jika bisa digabungkan, hasil yang ingin dicapai  memiliki kemungkinan keberhasilan yang lebih cepat dan lebih besar. </p>
<p><strong>3. Tertawakanlah diri sendiri</strong></p>
<p>Seringkali kita tergantung pada sesuatu yang lain (entah tontonan, bacaan, suara yang lucu dll) untuk tertawa. Dan itu artinya tawa kita bersyarat. Tapi menertawakan diri sendiri adalah tindakan spontan dan itu lebih bebas karena kita tidak tergantung kepada hal lain di luar kita. Selain menyegarkan mental dan pikiran,  menurut Robert Provine, seorang neurosaintis, tertawa juga mengandung manfaat &#8211; manfaat aerobik. Tertawa mengaktifkan sistem jantung dan urat darah, meningkatkan kecepatan  jantung, meningkatkan kinerja pemompaan darah ke bagian-bagian organ tubuh yang lebih dalam.</p>
<p>Kemampuan menertawakan  diri serta kesalahan  sendiri, menjadi semacam kran yang akan melancarkan kembali simpul-simpul kemampatan hidup. Kemampuan menertawakan diri adalah kemampuan menangkap humor atas kejadian yang menimpa diri kita. Menganggap bahwa kegagalan bukanlah sebuah tragedi dan sebaliknya sesuatu yang menggelikan adalah substansi dari kemampuan menangkap humor tersebut. Dan kemampuan menganggap kegagalan bukan sebuah tragedi, tapi justru sebaliknya, akan membuat mental dan pikiran kita terus segar. </p>
<p>Menertawakan diri sendiri menjadi semacam cara untuk berempati, bahwa kegagalan adalah sesuatu yang lumrah terjadi.</P></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=137</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi  mata waktu ke-7 : Kehidupan yang paling menyenangkan adalah kehidupan imajinasi.</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=61</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=61#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 17:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Lothar von Blenk Schmidt]]></category>
		<category><![CDATA[Edward Jenner]]></category>
		<category><![CDATA[Jadilah anak-anak]]></category>
		<category><![CDATA[Jules Verne]]></category>
		<category><![CDATA[Membalikkan logika]]></category>
		<category><![CDATA[Visualisasi tujuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[“Kehidupan yang paling menyenangkan adalah kehidupan imajinasi. Karena itu janganlah mengungkung imajinasi seseorang”
(Jules Verne, Penulis novel fiksi ilmiah, 1828 – 1905)

1. Balikkanlah logika
Kadang suatu sasaran bisa tercapai justru melalui pendekatan yang membalikkan logika. Segala sesuatu adalah mungkin, ini prinsipnya dan bahkan ketika suatu masalah menurut cara berpikir  yang lazim sulit diselesaikan, kenapa tidak mencoba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>“Kehidupan yang paling menyenangkan adalah kehidupan imajinasi. Karena itu janganlah mengungkung imajinasi seseorang”</em></strong><br />
(Jules Verne, Penulis novel fiksi ilmiah, 1828 – 1905)<br />
<img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/Berpikirkreatif-7.jpg" title="berpikir-kreatif-7" width="130" height="125" class="alignleft size-full wp-image-62" />
<p><strong>1. Balikkanlah logika</strong></p>
<p>Kadang suatu sasaran bisa tercapai justru melalui pendekatan yang membalikkan logika. Segala sesuatu adalah mungkin, ini prinsipnya dan bahkan ketika suatu masalah menurut cara berpikir  yang lazim sulit diselesaikan, kenapa tidak mencoba melalui jalan lain dengan  menjungkir balikkan logika? Ketika segala sesuatu diselesaikan dengan pendekatan yang logis, itu karena persoalan kewajaran saja. Dan nilai – nilai kewajaran itu ada karena secara umum diterima, karena memang begitulah pikiran kebanyakan orang  menerimanya. </p>
<p>Untuk memacu penyelesaian kreatif, beberapa  jalan yang tidak “logis” dapat ditempuh. Cara ini akan membawa kita pada penyelesaian-penyelesaian tidak biasa yang mugkin tidak terpikirkan sebelumnya. Bisakah kita <span id="more-61"></span>membayangkan hal – hal berikut dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mengikuti? </p>
<p>a. sebagai seorang pemimpin sebuah organisasi/institusi, and sengaja tidak datang pada suatu rapat penting yang mesti anda pimpin. Ini dapat menuntun kepada kemungkinan  dimana pengurus-pengurus lain lebih peduli untuk mempersiapkan rapat tersebut daripada sebelumnya, ketika anda bisa memimpinnya. Dengan demikian momen tersebut bisa menjadi cara untuk membuat pengurus-pengurus lain lebih peduli dan lebih paham seluk-beluk dan rencana-rencana strategis  organisasi yang selama ini mereka urus;</p>
<p>b. sebagai mahasiswa yang pintar dan selalu bernilai bagus, anda  “sengaja “ mendapat nilai jelek pada suatu ujian. Kemungkinan berikutnya adalah anda dipanggil oleh dosen mata kuliah bersangkutan dan dari situ anda bisa membangun hubungan lebih dekat dengan dosen tersebut;</p>
<p>c. saat sebuah momen datang, entah hari-hari besar atau ulang tahun teman atau orang dekat anda atau momen-momen yang lain, kirimilah    mereka dengan sebuah kartu ucapaan konvensional  buatan anda sendiri yang anda buat  secara manual (digambar dan ditulis tangan),  kemungkinan anda akan menyadari bahwa anda punya kemampuan untuk membuat kartu-kartu ucapan tersebut dengan kreasi anda. Demikian juga teman-teman serta orang-orang dekat anda akan merasakan perhatian yang lebih personal daripada ucapan-ucapan “mekanis” yang selama ini telah biasa mereka dapatkan.</p>
<p>Kemungkinan bisa datang lewat cara apapun, termasuk melalui cara yang menjungkir balikkan logika. Dan berpikir kreatif selalu mungkin melibatkan cara-cara tersebut. Tentu saja mengambil jalan dengan cara itu tetap melibatkan resiko, sebagaimana suatu cara diambil dengan jalan yang konvensional (biasa) dan barangkali malah  lebih besar. Tetapi bukankah memang demikian keniscayaan sebuah keputusan, apalagi untuk jalan kreatif?</p>
<p>Sebagai seorang dokter, Edward Jenner yang kemudian dikenal sebagai penemu vaksin cacar, sudah sering mendengar kepercayaan masyarakat dan pemerah susu di kota kecil Berkeley, Cloucestershire, Inggris, bahwa seseorang yang pernah terkena penyakit cacar sapi tidak akan terserang oleh penyakit cacar. Cacar sapi  adalah penyakit ternak ringan yang bisa menular kepada manusia. Tapi penyakit ini bagi manusia tidak berbahaya. Jenner berpikir, jika  keyakinan masyarakat tersebut benar, tentu seandainya serum penyakit cacar sapi tersebut dimasukkan ke tubuh manusia justru akan membuat mereka kebal terhadap penyakit cacar. Maka pada bulan Mei 1796, Jenner menyuntik seorang bocah lelaki dengan cairan yang  diambil dari bintik penyakit cacar sapi. Dan sebagaimana yang dipikirkan, bocah tersebut segera terkena cacar sapi. Tapi ketika serum penyakit cacar disuntikkan pada anak tersebut, ia tidak terkena penyalit itu.</p>
<p><strong>2. Visualisasikan tujuan kita</strong></p>
<p>Pikiran adalah kekuatan besar  yang dimiliki manusia. Salah satu cara untuk memanfaatkan kekuatan besar pikiran adalah memvisualisaikan tujuan kita. Kemana kita akan pergi, apa yang menjadi harapan dan seperti apa keberhasilan yang kelak akan kita raih, akan mempunyai daya stimulasi yang besar untuk diwujudkan apabila kita menempatkannya dalam gambaran pikiran kita. </p>
<p>Pikiran adalah energi dan kekuatan kreatif. Pikira adalah kekuatan luar biasa yang  bahkan bisa menciptakan realitas. Jika gambaran dalam pikiran tentang suatu obyek harapan   kita fokuskan dan ulang terus menerus, maka seiring perjalanan waktu, pikiran menuntun jalan untuk  mewujudkan  gambaran tersebut menjadi realitas.</p>
<p>Membangun visualisasi pikiran berarti membayangkan (dengan intens) suatu harapan  terlaksana (dengan melihat harapan itu telah terjadi). Gambaran dari pikiran itu difokuskan pada “sasaran yang telah selesai”.  Dengan demikian kehendak yang kuat  terhadap terlaksananya keinginan adalah pijakannya dan visualisasi pikiran adalah kendaraannya.
</p>
<p>Dr. Lothar von Blenk Schmidt, seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman yang juga menguasai pengetahuan tentang bawah sadar, memvisualisasikan keinginannya untuk lepas dari kamp tawanan  pada suatu tambang batubara saat menjadi tawanan pada perang  antara Jerman dan Rusia pada PD II. Ilmuwan tersebut melakukan konsentrasi agar bisa lolos dari kamp tawanan itu.  Ia menguasai pengetahuan bawah sadar, dan padaa saat mendesak seperti itu, ia sadar itulah saat yang tepat untuk menggunakan kemampuannya. Dalam pikirannya, ia terus mengulang-ulang kalimat, “Saya akan keluar dari tempat ini dan menemukan jalan untuk pergi  ke Los Angeles”. Dengan terus menerus pula ia memvisualisasikan dalam pikirannya gambar Boulevard Wilshire di kota Los Angeles. Ia juga membayangkan gedung-gedung di kota itu yang pernah ia lihat dari gambar. Ia membayangkan pula berjalan-jalan dengan seorang gadis Amerika di jalan-jalan kota itu. Pada suatu saat ia punya kesempatan untuk melarikan diri dari  kamp tersebut denga cara menyusup keluar dari barisan saat apel. Kemudian  pada malam harinya ia menumpang kereta api yang mengangkut batubara menuju Polandia. Selanjutnya ia pergi ke Swiss. Suatu malam di Hotel Palace di Lucerne, Swiss, ia berbincang-bincang dengan suatu keluarga dari Amerika. Keluarga ini menawari  Dr. Lothar  menjadi tamu  mereka di Amerika. Ia menyetujuinya dan selanjutnya berangkat ke Amerika. Saat Dr. Lothar berada di Los Angeles, supir yang mengantar membawanya melewati jalan-jalan yang dulu sering ia bayangkan ketika masih menjadi tawanan di tambang batubara. Dan bahkan kemudian ia mempersunting gadis Amerika. Maka demikianlah, terwujud pula harapan yang terus menerus ia gambarkan ke dalam pikirannya dulu.</p>
<p><strong>3. Jadilah anak-anak</strong></p>
<p>Dunia  anak-anak adalah dunia tanpa batas. Dunia dengan segala kemungkinan yang mereka pikirkan. Dunia dengan segala imaginasi, bahkan yang irasional sekalipun. Pikiran mereka tidak pernah dibatasi oleh syarat dan batasan yang dibuat oleh lingkunganya.  Anak-anak adalah sosok asing di wilayah yang asing, sehingga mereka selalu dipenuhi oleh ketakjuban, kekaguman dan keingintahuan. Dalam benak mereka selalu muncul pertanyaan “mengapa” terhadap segala hal yang mereka lihat, dengar dan rasakan.</p>
<p>Anak-anak tidak pernah mengangap sesuatu sebagai hal yang biasa. Mereka selalu berpikir,  sesuatu yang ada di sekitar mereka adalah barang menakjubkan yang mengundang pertanyaan. Terlepas apakah kemudian mereka mengungkapkan keheranan dan keingintahuan itu (karena ini menyangkut soal pola asuh), dalam benak anak-anak selalu timbul pertanyaan-pertanyaan. </p>
<p>Anak-anak juga tidak pernah mengekang imaginasi mereka. Hal terbaik dari pikiran seorang anak adalah, mereka menginginkan dan menganggap sesuatu sebagaimana mereka menggambarkannya dalam pikiran.  Berikanlah  seember pasir basah dan biarkan mereka “membangun” apa yang mereka inginkan. Lalu tanyakan apa yang mereka buat. Barangkali kita akan terheran-heran mendapatkan jawaban mereka, bagaimana mereka mempersepsikan bentuk yang mereka buat itu. Tapi itulah anak-anak. Pikiran mereka selalu siap mengembara kemanapun dan kemudian hinggap pada obyek apapun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=61</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-6 : Kita tidak dapat mendorong-dorong seseorang naik tangga</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=25</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=25#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 09:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Andrew Carnegie]]></category>
		<category><![CDATA[Benjamin Franklin]]></category>
		<category><![CDATA[Bill Gates]]></category>
		<category><![CDATA[Galileo Galilei]]></category>
		<category><![CDATA[Leonardo da Vinci]]></category>
		<category><![CDATA[Menikmati proses]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Angelo]]></category>
		<category><![CDATA[Visualisasi pikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[“Kita tidak dapat mendorong-dorong seseorang naik tangga, kecuali ia mau naik anak tangga demi anak tangga”
(Andrew Carnegie, Industrialis Amerika, 1835 – 1919)

1. Tentukan ke arah mana kita akan
        pergi
Apapun yang diharapkan oleh manusia (apakah itu pengembangan teknologi, penulisan buku, pendirian sebuah usaha, upaya penemuan dll) selalu di dahului [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>“Kita tidak dapat mendorong-dorong seseorang naik tangga, kecuali ia mau naik anak tangga demi anak tangga”</strong></em><br />
(Andrew Carnegie, Industrialis Amerika, 1835 – 1919)</p>
<p><img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/Annabergite.jpg" alt="Berpkir kreatif-6" title="Berpkir kreatif-6" width="135" height="114" class="alignleft size-full wp-image-199" />
<p><strong>1. Tentukan ke arah mana kita akan<br />
        pergi</strong></p>
<p>Apapun yang diharapkan oleh manusia (apakah itu pengembangan teknologi, penulisan buku, pendirian sebuah usaha, upaya penemuan dll) selalu di dahului dengan  memvisualisasi keinginan tersebut ke dalam pikiran dan menentukan  tujuan dan cara mencapainya. Tanpa hal itu mustahil  tujuan yang diharapkan bakal tercapai. Tanpa menentukan ke arah mana tujuannya, niscaya manusia akan terhuyung-huyung dan terjerembab. Telepon genggam tentu tidak hadir dalam kehidupan manusia begitu saja, tapi merupakan hasil dari penetapan tujuan dari para ilmuwan dan insinyur untuk membuat manusia lebih mudah berkomunikasi, cepat dan fleksibel.</p>
<p>Kita tidak mungkin sampai ke tujuan yang kita harapkan tanpa menentukan ke mana kita akan pergi. Menentukan ke mana tujuan kita berarti <span id="more-25"></span>mengeksplorasi apa yang kita perlukan untuk sampai ke tujuan itu  sekaligus memberdayakan apa yang kita miliki.  Menentukan ke arah mana kita akan pergi berarti pula mentukan syarat bagi tujuan kita, sekaligus memahami resikonya.</p>
<p>Menentukan tujuan lebih dari sekedar mengusung impian. Jika impian hanya berhenti sampai tahap menginginkan, menentukan tujuan berarti “membayar” apa yang menjadi impian tersebut dengan memahami sekaligus menentukan syaratnya, cara mencapai, serta resiko yang mungkin timbul. </p>
<p>Seorang Bill Gates telah menentukan arah perginya, ketika ia memutuskan berhenti kuliah dari Universitas Harvard dan beralih ke dunia bisnis <em>software</em> dengan mendirikan microsoft. Benyamin Franklin menentukan arah perginya sebagai penemu penangkal petir, ketika ia berani menempuh resiko  melakukan eksperiman berbahaya dengan cara menerbangkan layang-layang yang diberinya batangan logam  berujung runcing dan menghadap ke atas, pada saat badai guntur. Galileo Galilei menentukan arah perginya sebagai ilmuwan besar, saat ia berani menanggung resiko dengan di bawa ke pengadilan dan dijatuhi hukuman ketika ia bersikukuh pada pendapatnya tentang tata surya.</p>
<p>Tujuan mutlak diperlukan dalam  mewujudkan suatu mimpi. Tanpa menentukan tujuan, keinginan dan mimpi yang kita bangun akan segera  mati suri dan sekedar menjadi angan-angan belaka tanpa sempat tumbuh dan menjadi kenyataan</p>
<p><strong>2. Petakan dan nikmati  proses</strong></p>
<p>Kita  memang harus berpikir tentang keberhasilan kita. Tentang tujuan akhir dari usaha kita. Tapi memikirkan tujuan akhir tanpa memetakan  proses justru akan membuat langkah kita tergesa-gesa dan tidak fokus. Padahal dalam perjalanan selalu ada proses yang harus kita lewati satu persatu dan proses itupun harus kita pahami. Keberhasilan akhir adalah hasil kumulatif dari keberhasilan masing – masing proses penyusunnya.  Sebagaimana tujuan akhir memerlukan syarat dan strategi untuk mencapainya, demikian pula dengan proses-proses penyusunnya. </p>
<p>Sedangkan menikmati proses akan membuat pikiran kita lebih rileks. Pikiran yang rileks akan mengundang kreativitas, karena pikiran akan lebih leluasa bergerak dan menjelajah.</p>
<p>Sebagai contoh, bagi seorang penulis, sadar atau tidak (tentu lebih baik jika proses itu memang telah dipetakan, sehingga si penulis memahami syarat-syarat yang diperlukan dalam menjalani proses-proses itu) dia pasti melalui  proses-proses dalam tahap kreatifnya membuat suatu tulisan, dan  mustahil ia tidak menikmati proses-proses tersebut sampai ia menghasilkan sebuah tulisan yang baik. Proses yang saya maksudkan adalah :<br />
-  proses persiapan :  seorang penulis telah menyadari apa<br />
   yang akan ditulis dan bagimana menuliskannya;<br />
-  proses inkubasi : seorang penulis akan menyimpan gagasan<br />
   tulisannya dan memikirkan gagasan itu;<br />
-  proses penulisan; dan<br />
-  proses revisi  </p>
<p>Bagaimana mungkin seseorang menghasilkan tulisan yang bagus tanpa menikmati masing – masing proses di atas? Bukankah keberhasilan masing- masing proses itu akan menentukan proses berikutnya sampai selesainya sebuah tulisan?</p>
<p><strong>3. Usahakan dengan tekun</strong></p>
<p>Bukan hal aneh jika salah satu sebab keberhasilan penciptaan dan penemuan-penemua besar adalah karena dilakukannya usaha yang tekun dan terus menerus. Bahkan ketika sebuah keberuntungan datang, sesungguhnya itu hanya awal terbukanya kesempatan.  Tentu usaha yang  tekun merupakan cara untuk menuntaskannya. Ketekunan dalam mengerjakan sesuatu  menuntun  pada temuan-temuan kesalahan, tetapi dengan   sikap  terus tekun pula hal itu justru menjadi pijakan untuk  memperbaikinnya. </p>
<p>Mungkinkah Cristhoper Columbus menemukan benua Amerika jika ia langsung menyerah dan tidak berusaha dengan tekun saat proposal penjelajahannya di tolak Portugis dan Inggris? Mungkinkah Thomas Alva Edison  bisa menemukan bola lampu jika ia tidak tekun mencoba sampai 43.000 filamen yang cocok? Mungkinkah tercipta <em>fresco</em> yang luar biasa  di langit-langit Kapel Sistine di Roma, jika Michael Angelo tidak tekun mengerjakannya selama 4 tahun terus menerus?  </p>
<p>Tak ada satu pun pekerjaan besar dapat diselesaikan tanpa  dorongan untuk memulainya dan  tekat kuat untuk menyelesaikannya. Untuk itu ketekunan menjadi syarat utama. Bisakah kutipan bijak dari Leonardo da Vinci berikut  menyadarkan kita akan pentingnya kerja keras dan tekun? <em>&#8220;Engkau, Ya Tuhan, menjual semua hal baik kepada kami dengan harga kerja keras&#8221;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=25</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-5 : Jika di bandingkan tahu keajaiban dalam hidup anda</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=21</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=21#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 09:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Columbus]]></category>
		<category><![CDATA[Einstein]]></category>
		<category><![CDATA[Ingin tahu]]></category>
		<category><![CDATA[Keajaiban hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Kemungkinan lain]]></category>
		<category><![CDATA[Osho]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajari perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Jika di bandingkan tahu keajaiban dalam hidup anda, tahu seluruh dunia itu bukan apa-apa&#8221;.
(Osho, Guru Spiritual, 1931 – 1990)

1. Pelajari dan tandailah perubahan kita 
Di dunia ini, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dan semestinya segala sesuatu berubah karena memang demikianlah dunia berkembang. Tak ada yang tidak berubah, bahkan pada sebuah benda mati sekalipun. Jika kita merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>&#8220;Jika di bandingkan tahu keajaiban dalam hidup anda, tahu seluruh dunia itu bukan apa-apa&#8221;.</em></strong><br />
(Osho, Guru Spiritual, 1931 – 1990)</p>
<p><img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/animal_031.jpg" alt="Berpikir kreatif_5" title="Berpikir kreatif_5" width="128" height="110" class="alignleft size-full wp-image-163" />
<p><strong>1. Pelajari dan tandailah perubahan kita </strong></p>
<p>Di dunia ini, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dan semestinya segala sesuatu berubah karena memang demikianlah dunia berkembang. Tak ada yang tidak berubah, bahkan pada sebuah benda mati sekalipun. Jika kita merasa nyaman dalam suatu keadaan, maka kita cenderung tidak berkembang. Seharusnya kita berubah. Seharusnya kita berkembang.</p>
<p>Mempelajari bagaimana kita berubah adalah mempelajari pola-pola dan kecenderungan-kecenderungan. Karena merupakan sebuah kecenderungan, suatu saat kita bisa memakainya dengan sengaja dan mengharapkan perubahan dari cara itu. Dulu ketika awal belajar membaca, kita sering <span id="more-21"></span>mengeja kata demi kata dengan gerakan jari telunjuk mengikuti kata – kata tersebut. Tetapi semakin lama kita berusaha meninggalkan kebiasaan itu, karena kita sadar selain melelahkan, kebiasaan itu juga menghambat kecepatan baca. Suatu ketika tanpa direncanakan kita mungkin mengambil jalan lain saat berangkat atau pulang kerja. Dan ternyata kita menemukan bahwa lewat jalan  tersebut, kita justru menemukan banyak hal yang menyenangkan dan memudahkan, misalnya banyak rumah makan, banyak toko buku atau banyak gerai-gerai penjual voucer pulsa telpon. Maka kita pun kemudaian akan berusaha menandai bahwa jalan tersebut lebih menyenangkan sebagai jalur saat kita berangkat atau pulang kerja.</p>
<p>Hal itu bisa kita terapkan untuk banyak hal di dalam kehidupan kita. Kehidupan  mempunyai kecenderungan – kecenderungan untuk menuntun kita pada sesuatu yang lebih menyenangkan. Kehidupan mempunyai lecenderungan untuk menuntun kita pada perubahan-perubahan yang lebih baik. Tingal kita bisa atau tidak menandainya, karena kecenderungan ke arah perubahan sering mudah lepas dari perhatian kita.</p>
<p><strong>2. Temukan kemungkinan lain saat kita tersesat</strong></p>
<p>Sesungguhnya kehidupan ini sering berisi kejutan – kejutan jika kita mau memperhatikannya. Dan yang namanya kejutan, tentu tidak bisa kita ramalkan atau pehitungkan sebelumnya. Ketika kita keluar dari jalan yang kita rencanakan, seringkali kita justru menemukan banyak hal yang lebih menantang dan menggairahkan.  Dalam pengalaman yang sedehana, beberapa kali saya justru mendapatkan buku dengan topik lain yang  menarik, saat  pergi ke toko buku saya tidak menemukan buku yang saya inginkan. Pengalaman sederhana ini menarik bagi saya, karena kemudian saya berpendapat banyak kehidupan ini tidak pernah kehabisan kejutan untuk kita. Tentu hal tersebut juga bisa berlaku untuk hal – hal lain.</p>
<p>Bukankah  Columbus  menemukan Amerika, sesungguhnya karena ia tersesat?  Yang menarik minat banyak penjelajah eropa saat itu adalah wilayah Timur Jauh yang terkenal akan rempah-rempahnya. Dan jalan putar yang  ditempuh Columbus membawanya ke benua itu. Tetapi ketersesatan Columbus justru membawa berkah, karena eksplorasi pertama yang ia lakukan terhadap benua Amerika, kemudian mebuka dunia baru tersebut.</p>
<p>Bagaimana kita bisa menemukan hal-hal baru saat kita tersesat? Yang penting adalah kita tidak menutup pikiran terhadap kemungkinan – kemungkinan baru yang ada di depan kita, demikian juga, kita mesti rela “melepaskan beban” keinginan yang kita rencanakan sebelumnya. Tidak tergesa-gesa untuk segera kembali ke jalur semula yang kita rencanakan saat kita tersesat, akan membuka peluang untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan lain yang menggairahkan.</p>
<p><strong>3. Kembangkanlah sikap ingin tahu</strong></p>
<p>Sikap ingin tahu merupakan jalan untuk membuka pikiran kreatif. Berpikir kreatif  semestinya dikembangkan sampai ke batas-batas, wilayah-wilayah dan ruang-ruang yang asing bagi kita. Karena wilayah-wilayah tersebut sering masing asing bagi kita dan bisa memberikan banyak kemungkinan baru, maka keingintahuan adalah syarat untuk masuk di dalamnya. Dalam mengeksplorasi keingintahuan, pertanyaan yang diajukan semestinya tidak hanya berhenti pada satu dua hal saja, karena suatu kejadian sering tidak berdiri sendiri, tapi melibatkan banyak unsur.  Untuk mengembangkan sikap ingin tahu, kita bisa belajar dari cara wartawan mencari jawaban untuk ditulis atas sebuah kejadian atau obyek  berita. Pertanyaan substansial dari para wartawan itu sudah sering kita dengar sebagai 5 W + H (<em>who, what, why, when, where</em> dan <em>how</em>). </p>
<p>Mengingat bahwa keingintahuan merupakan jiwa dari penjelajahan-penjelajahan dan penemuan-penemuan, semestinya sikap itu terus dipupuk  dan dilatih sensititivitasnya. Dalam kehidupan keseharian, tidak akan pernah kehilangan  hal atau gejala untuk dipertanyakan. Dan sesungguhnya merupakan kodrat manusia  dengan segala keterbatasannya untuk tidak mengerti sesuatu dan kemudian merupakan sebuah kepantasan untuk mengajukan berbagai pertanyaan atas ketidaktahuannya. Bahkan seorang Enstein memberi nasehat yang tegas tentang pentingnya mengembangkan sikap ingin tahu. <em>“Hal yang penting adalah jangan berhenti bertanya. Rasa ingin tahu mempunyai alasannya sendiri untuk tetap eksis”.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=21</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-4 : Melalui keragu-raguan menuju ke aksioma kepastian</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=19</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=19#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 09:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Aksioma]]></category>
		<category><![CDATA[Colonel Sanders]]></category>
		<category><![CDATA[Intuisi]]></category>
		<category><![CDATA[Kamus Besar Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[Kentucky Fried Chicken]]></category>
		<category><![CDATA[Michael Faraday]]></category>
		<category><![CDATA[Rene Descartes]]></category>
		<category><![CDATA[Tentukan pijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas Alva Edison]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Melalui keragu-raguan menuju ke aksioma kepastian&#8221;
(Rene Descartes,  1596 – 1650)

1.Tentukanlah pijakan kita
Apapun yang kita kejar dan harapkan, kita perlu membangun pondasi untuk mengawalinya. Ini penting, karena seperti bangunan rumah, apapun jenis dan model yang akan kita bangun, pondasi adalah hal pertama yang harus kita perhatikan. Pondasi untuk membangun  apa yang kita harapkan, dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>&#8220;Melalui keragu-raguan menuju ke aksioma kepastian&#8221;</em></strong><br />
(Rene Descartes,  1596 – 1650)</p>
<p><img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/holidays_074.jpg" alt="Berpikir kreatif_4" title="Berpikir kreatif_4" width="128" height="110" class="alignleft size-full wp-image-134" />
<p><strong>1.Tentukanlah pijakan kita</strong></p>
<p>Apapun yang kita kejar dan harapkan, kita perlu membangun pondasi untuk mengawalinya. Ini penting, karena seperti bangunan rumah, apapun jenis dan model yang akan kita bangun, pondasi adalah hal pertama yang harus kita perhatikan. Pondasi untuk membangun  apa yang kita harapkan, dapat bermacam-macam. Tapi saya rasa sikap mental merupakan hal utama, karena dengan itu kita bisa menggerakkan sumber daya yang lain untuk mengejar impian dan harapan kita. </p>
<p>Kita tahu bahwa sejarah pencarian  dan penemuan selalu diawali dengan membangun pijakan yang kokoh. Diawali dari minat, kemudian <span id="more-19"></span>para penemu tersebut menenggelamkan dirinya ke dalam dasar-dasar upaya penjelajahannya. Dan dengan pijakan yang kokoh pada pondasi bidang yang ditekuninya mereka menemukan hal – hal yang monumental.</p>
<p>Michael Faraday,  penemu dinamo, senang  mengikuti ceramah-ceramah yang disampaikan Sir Humphy Davy, seorang ahli kimia. Ia tekun mencatat materi ceramah -ceramah tersebut. Suatu ketika, ia mengirim tulisan materi ceramah itu disertai surat lamaran,  kepada  Davy. Davy tertarik terhadap tulisan-tulisan Faraday, sehingga ia menerimanya sebagai asisten di laboratoriumnya. Davy terkesan dengan ketekunan Faraday, sehinga ia tidak segan menularkan ilmunya. Faraday sadar bahwa cara seperti itulah yang harus ia lakukan untuk mengejar impiannya menjadi seorang ilmuwan. Dan pada akhirnya, ia banyak menghasilkan temuan-temuan besar. Faraday berhasil karena ia sadar, bahwa ia harus menentukan  pijakan yang tepat.</p>
<p>Cara untuk membangun pijakan dalam merintis apa yang kita harapkan sangat beragam. Berkumpul dengan orang – orang yang mempunyai minat yang sama dan mendiskusikan hal – hal yang berkaitan dengan apa yang kita kejar adalah salah satunya. Demikian pula mengikuti pelatihan, seminar, kursus, bergabung di maling list juga dapat kita lakukan.</p>
<p><strong>2. Bersahabatlah dengan kegagalan</strong></p>
<p>Kegagalan sering memaksa orang mencari pendekatan-pendekatan baru dan cara-cara atau strategi  lain. Sesuatu yang sering tidak terpikirkan ketika segalanya berjalan baik-baik saja. Kita sering berhenti pada kesimpulan bahwa saya benar dan berhasil sampai sebuah kegagalan menyadarkan kita.</p>
<p>Ketika kita gagal, sesungguhnya pikiran mempunyai mekanisme  untuk menjadikan  kegagalan itu sebagai  “pelecut”. Tapi tentu saja ambang lecut itu bagi masing – masing orang berbeda. Kalau kita menyimak sejarah orang – orang besar, mereka mempunyai  ambang/toleransi  jatuh yang sangat lebar, sehingga dalam kegagalan yang fatal  dan  terus menerus sekalipun, mereka berusaha mencari cara baru untuk menghindari kegagalan yang sama. Kegagalan, semata – mata memang persoalan pikiran. Tidak lebih.</p>
<p>Yang perlu dilakukan dalam merangkul kegagalan adalah kesadaran untuk menjadi kritikus bagi diri sendiri. Membuka diri terhadap kesadaran bahwa sesuatu mungkin saja gagal. Teliti kesalahannya dan perbaiki. </p>
</p>
<p>Colonel Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken, memutuskan untuk mencoba resep ayamnya yang terakhir dalam usia 60 tahun, setelah secara terus menerus  mencoba berbagai resep. Kemudian ia berusaha menjual resep olahannya ke berbagai restoran, di mana ia berharap bisa berbagi keuntungan. Bayangkan, Colonel Sanders sudah mendatangi restoran dan orang-orang yang diharapkan mau membeli resep olahnnya sebanyak 1002 kali. Dan akhirnya ia membuktikan pada dunia, bahwa ia orang yang sukses setelah melewati kegagalan yang terus menerus.</p>
<p><strong>3. Ikutilah intuisi</strong></p>
</p>
<p>Dalam <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> (KBBI), intuisi didefinisikan sebagai daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesutau tanpa dipikirkan atau dipelajari; bisikan hati; gerak hati.  Orang sering mempertentangkan logika dengan intuisi. Padahal proses berpikir secara logis pun seringkali melibatkan intuisi. Dalam hal ini, pilihan berdasar pertimbangan yang logis sering dihadapkan pada begitu banyak alternatif dan intuisi membantu menetapkan pilihan itu. Walaupun kesimpulan dari suatu proses berpikir logis  tampaknya merupakan puncaknya, tapi tanpa melibatkan intuisi kita sering ragu dan tidak puas apakah benar kesimpulan tersebut merupakan puncak dari proses berpikir logis.</p>
<p>Meskipun para ilmuwan besar dalam bekerja selalu didasari obyektivitas, bagaimanapun  mereka tetap  melibatkan intuisi dalam proses penemuan monumentalnya. Pada hampir semua hipotesis ilmiah, mula – mula timbul intuisi yang bergesekan dengan hipotesis tersebut dan kemudian dilaukan pembuktian – pembuktian yang teliti untuk mendukung hipotesis tersebut. Thomas Alva Edison telah menguji 43.000 filamen dengan melakukan hampir 20.000 kali kegagalan eksperimen. Namun intuisinya mengatakan bahwa filamen itu ada, sampai ia benar-benar membuktikannya dan menemukan bola lampu yang sekarang kita kenal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=19</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-3 : Manik-manik pengetahuan itu sudah diterima</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=16</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=16#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 09:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Analogi alam]]></category>
		<category><![CDATA[Gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[John Steinbeck]]></category>
		<category><![CDATA[Ken Wilber]]></category>
		<category><![CDATA[Manik-manik pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[Metafora]]></category>
		<category><![CDATA[Robert Goddart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Manik-manik pengetahuan itu sudah diterima, hanya tinggal merangkainya menjadi kalung&#8221;
(Kenneth Earl Wilber Jr, Penulis Amerika, 1949 &#8211; )

1. Carilah gagasan di sekitar kita
Seringkali gagasan-gagasan segar ada di sekitar kita, namun kita tidak menyadarinya. Banyak hal begitu gampang lepas dari perhatian kita, karena kita kerap memandang sebelah mata segala sesuatu yang sudah biasa dan dekat dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>&#8220;Manik-manik pengetahuan itu sudah diterima, hanya tinggal merangkainya menjadi kalung&#8221;</em></strong><br />
(Kenneth Earl Wilber Jr, Penulis Amerika, 1949 &#8211; )</p>
<p><img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/Lilin.jpg" alt="Berpikir kreatif_3" title="Berpikir kreatif_3" width="125" height="89" class="alignleft size-full wp-image-120" />
<p><strong>1. Carilah gagasan di sekitar kita</strong></p>
<p>Seringkali gagasan-gagasan segar ada di sekitar kita, namun kita tidak menyadarinya. Banyak hal begitu gampang lepas dari perhatian kita, karena kita kerap memandang sebelah mata segala sesuatu yang sudah biasa dan dekat dengan kita. Mampu memperhatikan  hal-hal yang biasa, (barangkali) sepele dan dekat dengan kita dan menempatkannya sebagai sumber gagasan, memang memerlukan kesadaran dan kebiasaan. </p>
<p>Apa yang ada disekitar kita : gejala-gejala alam, kebiasaan makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungan, interaksi hewan dalam komunitasnya dan sebagainya, merupakan sumber-sumber gagasan yang kaya. Sudah banyak penemuan yang diterapkan sebagai  analogi dari gejala-gejala yang ada di sekitar kita. Radar, misalnya, ditemukan dari mempelajari cara kelelawar <span id="more-16"></span>memantulkan gelombang bunyi sebagai panduan terbangnya. Model pintu pesawat kargo diilhami dari cara kerang membuka cangkangnya. Bahkan model interaksi komunal dan organisasi manusia pun sesungguhnya sering mengambil analogi dari perilaku hewan : misalnya pembagian kerja pada lebah dan semut, jaringan laba-laba dll. </p>
<p>Kuncinya  adalah kepekaan kita untuk membaca metafora dan analogi alam. Dan untuk  bisa membaca metafora dan analogi tersebut, kita harus membuka mata dan pikiran. Ada banyak sumber gagasan disekitar kita, tidak perlu jauh-jauh mencari. Dan memang sudah menjadi kodrat manusia memiliki kemampuan untuk mengamati alam dan mengambil berbagai analogi untuk diterapkan pada kehidupannya. Tapi mengamati dan memikirkan sesuatu sebagai hal yang baru adalah sebuah ketrampilan. Alih-alih mengamati hal-hal yang baru, kita seringkali memikirkan sesuatu dengan menggali kembali apa yang telah dipikirkan orang lain. Boleh jadi hal itu tidak akan membawa pikiran kita kepada gagasan-gagasan dan pikiran baru, kecuali kita menemukan sesuatu yang lain dari apa yang telah dipikirkan dan ditemukan orang lain itu. Bagaimanapun, intinya adalah mencari dan kemudian kepintaran untuk menemukan. Bicara mengenai pentingnya mencari, berikut adalah sebuah ilustrasi yang merupakan cerita dari Seribu Satu Malam, yang dikisahkan dalam buku <em>Menulis Dengan Emosi</em>, karya Carmel Bird.  </p>
<p><em>Seorang pedagang di Bagdad tinggal di rumah berhalaman marmer abu-abu, di jalan berbatu yang dipagari pohon palem. Di ujung halaman rumah itu, di bawah pohon anggur yang sedang berbunga, ada air mancur yang dihiasai marmer putih. Suatu malam pedagang itu bermimpi, dalam mimpinya dia disuruh berangkat ke Kairo untuk mencari peruntungan. Dia pun mengiuti impiannya itu. Dalam perjalannya ke kairo, karena kelelahan dia tertidur di halaman mesjid, tapi naas dituduh masuk dan merampok rumah di sebelahnya. Dia dipenjarakan. Saat diiterogasi dia menceritakan kepada polisi bahwa dia sekedar mengikuti mimpinya.</p>
<p>&#8220;Bodoh&#8221;, kata polisi itu, bukankah mimpimu itu hanya membawamu ke penjara ini saja? Aku sendiri bermimipi tiga kali, tetapi aku tidak segampang dan sebodoh itu mengkuti mimpiku&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bagaimana mimpi Anda?&#8221;</p>
<p>Dalam mimpiku aku disuruh pergi ke Bagdad. Di sana aku akan menemukan rumah berlantai abu-abu. Di ujung halaman, di bawah rerimbunan pohon anggur, terdapat air mancur berhiaskan marmer putih. Di bawah air mancur itu terkubur harta melimpah&#8221;.</p>
<p>Pedagang itu yakin bahwa yang dimaksudkan Polisi itu dalam mimpinya adalah rumahnya. maka dia bergegas kembali ke rumahnya di Bagdad, menggali tanah di bawah air mancur, dan ternyata dia memang menemukan harta karun.</p>
<p></em></p>
<p><strong>2. Tak ada yang salah dengan kreasi Anda.</strong></p>
<p>Keberanian berkreasi akan membuka peluang  pada sesuatu yang baru, atau setidaknya gagasan-gagasan antara untuk tujuan yang lebih besar. Tak ada yang salah dengan percobaan. Tak ada yang keliru dengan kreasi. Yang ada, barangkali hanya pandangan aneh bahwa sesuatu tampak asing di mata orang lain. Tapi menyadari bahwa tak akan lahir sebuah cara atau produk baru tanpa suatu kreasi, maka kreasi adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan.</p>
<p>Robert Goddart, dalam proses kreatifnya menciptakan roket, sering mendapat ejekan dari orang &#8211; orang di sekitarnya. Ia mendapat julukan sebagai &#8220;Si Roket Bulan&#8221;, karena apa yang ia kerjakan tampak aneh bagi orang- orang yang tak pernah peduli pada apa yang disebut berkreasi. Memang kebanyakan orang hanya peduli pada upaya untuk &#8220;menikmati&#8221; tanpa mau bersusah payah untuk berkreasi. Tapi sebagai ilmuwan besar, Goddart tidak peduli. Ia terus berkreasi dan belajar dari kegagalan, sampai akhirnya orang mengenangnya sebagai penemu roket, pembuka cakrawala baru dunia antariksa.</p>
<p>Berkreasi berarti berani melakukan kesalahan. Jika sebuah kreasi adalah cara untuk menemukan kesalahan, berarti pula ia merupakan cara untuk menemukan jalan keluar. Sebagai sebuah proses, berkreasi (dan akhirnya menemukan sesuatu yag baru) selalu melewati tahap &#8211; tahap berikut : membuat atau mengerjakan sesuatu &#8211; melakukan kesalahan (dan menyadarinya) &#8211; memperbaiki- (dan akhirnya) menghasilkan sesuatu yang baru. Tentu saja proses menghasilkan sesuatu  melalui kreasi bisa berlangsung dalam tangga proses yang panjang dan lama. </p>
<p>Penulis John Steinbeck, punya kebiasaan berkreasi dengan menulis memenuhi kertas dan kemudian membuang kertas-kertas itu. Apa yang ditulisnya? ternyata ia  terus menerus berlatih dan berkreasi untuk menemukan penggambaran yang tepat tentang cuaca di luar, suasana kamarnya, tata letak mebelair di ruangannya dan lain sebagainya. Ia terus menerus berkreasi. Ia terus menerus mencoba menemukan kesempurnaan untuk tulisannya. Dan pada akhirnya ia mendapatkan hal itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=16</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-2 : Biarkan dengan ringan hidupmu menari</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=13</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=13#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 09:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Berani menjelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Coca Cola]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Goleman]]></category>
		<category><![CDATA[Kenali situsi]]></category>
		<category><![CDATA[Rabindranath Tagore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[“Biarkan dengan ringan hidupmu menari di batas waktu, seperti embun pada pucuk sebuah daun”
(Rabindranath Tagore, 1861 – 1941)

1. Kenali situasinya

Kehidupan yang kita jalani tidak berjalan  secara acak dan sembarangan, namun disadari atau tidak merupakan rangkaian dari hal – hal yang kita lakukan sebelumnya. Orang sering mengeluh harinya  sial, tapi benarkah (sekecil apapun dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>“Biarkan dengan ringan hidupmu menari di batas waktu, seperti embun pada pucuk sebuah daun”</em></strong><br />
(Rabindranath Tagore, 1861 – 1941)</p>
<p><img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/sea_007.jpg" alt="Berpikir kreatif_2" title="Berpikir kreatif_2" width="128" height="110" class="alignleft size-full wp-image-108" />
<p><strong>1. Kenali situasinya</strong>
</p>
<p>Kehidupan yang kita jalani tidak berjalan  secara acak dan sembarangan, namun disadari atau tidak merupakan rangkaian dari hal – hal yang kita lakukan sebelumnya. Orang sering mengeluh harinya  sial, tapi benarkah (sekecil apapun dan sadar atau tidak) pada saat itu tidak ada keputusan dan tindakan sebelumnya yang menyebabkannya? Inilah pentingnya mengenal situasi sebelum kita bertindak.</p>
<p>Mengenali situasi berarti mengenali diri kita, orang lain dan hal-hal lain/lingkungan sekitar kita. Dengan mengenali situasi, berarti kita memahami  resiko dan memahami resiko berarti memahami cara untuk  mengantisipasi kegagalan sesedikit  mungkin.  Disadari bahwa kemampuan mengenal situasi adalah <span id="more-13"></span> hal yang penting, maka sejak kecil pun kita sesungguhnya sudah sering dilatih oleh guru maupun orang tua kita untuk menguasainya. Misalnya, dulu saat hendak menyeberang jalan kita selalu diingatkan untuk menengok kiri &#8211; kanan terlebih dahulu, setelah memungkinkan baru kita menyeberang. Kita pasti juga sering diingatkan untuk tidak membaca ketika penerangan tidak layak, untuk mencegah gangguan penglihatan kita. Dan ketika kita dewasa pun pentingnya mengenal situasi akan sangat berperan dalam kehidupan sehari – hari. Misalnya, tentu kita akan memilih menunda  membicarakan persoalan yang tidak terlalu mendesak dengan bos kita saat kita melihat wajahnya cemberut dan uring-uringan, bukan? (kecuali pembawannya memnag demikain <img src='http://www.matawaktu.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p>Daniel Goleman, dalam Emotional Intelligence mengilustrasikan suatu metode yang menarik dalam menyelesaikan suatu masalah yang melibatkan pengenalan sitausi ini, yaitu metode SOCS yang merupakan akronim dari Situation, Option, Consequence, Solutions (Situasi, Pilihan, Akibat, Penyelesaian). Ini merupakan metode empat langkah : mengatakan apa situasinya dan bagaimana perasaan kita  terhadap situasi itu; pikirkanlah pilihan – pilihan kita untuk menyelesaikan situasi tersebut dan apakah akibat – akibat yang mungkin timbul,  kemudian ambillah suatu pemecahan dan laksanakan.</p>
<p>Prinsip dari mengenal situasi adalah kehati-hatian untuk mengambil langkah dan keputusan. Elizabeth Jolley, seorang penulis Australia, dalam aktifitas menulisnya mempunyai kalimat yang bernas untuk urusan mengenali situasi  : “Saya berhati – hati agar tidak membuat kesalahan. Sungai saya tidak pernah mengalir ke hulu”.</p>
<p><strong>2. Beranilah menjelajah</strong></p>
<p>Penemuan baru, selalu diawali dari keberanian untuk mencari dan menjelajah. Barangkali   berbagai bahan untuk melahirkan gagasan – gagasan baru, seperti pengetahuan, informasi dan pengalaman, bisa diperoleh dari tempat, bahan, atau informasi lama. Tetapi akan lebih banyak hal – hal baru yang asli bisa kita peroleh dari pengalaman, kejadian, tempat, dan sumber informasi yang baru. Alam menyediakan sumber yang luar biasa untuk penemuan dan gagasan – gagasan baru. Yang diperlukan hanya keberanian untuk keluar dari zone aman yang selama ini kita tinggali, dan itu artinya kita mesti berani menjelalajah lebih jauh dan mencoba hal – hal baru.</p>
<p>John Stith Pemberton, penemu racikan minuman Coca Cola adalah seorang  ahli obat – obatan. Meskipun ia telah mematenkan beberapa penemuanya, namun ia belum puas karena  merasa pemuan-penemuanya tersebut kurang spektakuler. Ia berharap bisa menemukan racikan obat yang enak dikonsumsi. Maka ia mencampurkan tanaman Coca, sebuah tanaman yang telah lama dikenal masyarakat Peru dan Bolivia sebagi suplemen dengan tanaman Cola dan Damiana, yang juga telah terkenal khasiatnya sebagai perangsang kinerja otak dan pembangkit energi. Maka penjelajahan gagasannya menghasilkan apa yang sekarang kita kenal dengan minumal bersoda Coca Cola. </p>
<p>Otto van Guericke, menemukan pompa air dari ketidak percayaannya pada pendapat Aristoteles bahwa tidak ada ruang hampa udara di dunia ini. Ia melakukan percobaan yang kemudin membuktikan tentang teori tekanan udara. Guericke lalu berkesimplan bahwa alam tidak mentolerir ruang hampa udara. Jik ada sebuah ruang hampa udara, maka materi yang berhubungan dengannya, entah udara ataupun air akan segera mengisinya. Prinsip ini ia gunakan untk menemukan pompa air.</p>
<p>Seorang penjelajah yang kreatif akan selalu punya anggapan dasar bahwa ”dunia” yang ia masuki selalu menyimpan bahan dan informasi, sehingga merupakan sumber gagasan yang segar. Yang perlu dilakukan hanya menemukan informasi itu dan menggarapnya menjadi gagasan baru. </p>
<p>Bila kita pergi ke pasar kita akan menemukan gagasan di sana. Demikian pula jika kita pergi ke pameran buku, museum, tempat pemancingan, jalan yang kita lewati saat dengan santai kita bersepeda dan lain-lain. Hal yang sama akan kita temui jika kita membaca buku, mendengarkan pidato orang lain serta sumber-sumber gagasan lain. Kuncinya hanya satu : membuka pikiran kita. Dari situ kita bisa mendapatkan informasi baru dan kemudian mengolahnya menjadi sebuah gagasan.</p>
<p><strong>3. Perhatikan hal – hal kecil</strong></p>
<p>Alam menunjukkan hal – hal  yang menakjubkan justru pada bagian-bagian kecilnya, pada detil-detilnya. Hal – hal menakjubkan tersebut jika kita eksplorasi lebih lanjut akan menghasilkan gagasan – gagasan  baru dan segar.</p>
<p>Penemuan – penemuan  lahir dari pengamatan terhadap hal – hal kecil dan detil  tentang alam. Model yang menjadi temuan- temuan besar seringkali telah dikemukakan sebagai analogi dari alam.  Alfred Russel Wallace adalah kisah keuletan seorang petualang dan  ilmuwan yang sangat peduli pada hal – hal kecil dan detil. Ia cemat dan detil mengamati dan mengumpulkan keragaman wujud genetika di alam.  Dia tak pernah mengamati dua kupu-kupu dengan motif bintik bulu yang sama. Dia menemukan bahwa rusa yang bertanduk panjang ternyata punya anak yang bertanduk bantat. Dia selalu menemukan detil dan variasi.</p>
<p>Sir Basil Spence, seorang arsitek modern Inggris, sedang membuka – buka majalah sejarah alam dan dia melihat pembesaran mata lalat. Apa yang dia lihat kemudian menjadikannya ilham bagi bangunan kubah gereja desainnya.</p>
<p>Konstruksi sosro bahu yang sering diterapkan dalam pembangunan jalan layang, ditemukan oleh Tjokorda Raka Sukawati ketika ia membongkar mobilnya. Ia menemukan bantalan karet yang saling bertaut dengan pelumas diantaranya, dan itu memberinya ide untuk diterapkan pada konstruksi temuannya tersebut.</p>
<p>Para pengarang besar masa lalu adalah orang – orang yang tekun mengamati detil suatu kota. Hampir setiap hari Honore De Balzac menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyususri jalanan di Paris, Carles Dickens menyusuri jalanan di London dan Fyodor Dostoyevski, jalanan di St. Petersburg.</p>
<p>Yang harus diperhatikan adalah bahwa apa yang diilhamkan oleh alam biasanya adalah suatu prinsip yang telah dikembangkan oleh alam untuk menyelesaikan suatu kebutuhan atau masalah khusus dan dalam situasi tertentu. Dan model – model itu dapat diterapkan untuk semua pemikiran kreatif kita. Tugas kita adalah melihat lebih dalam. Melihat lebih detil.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=13</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi mata waktu ke-1 : Ketika anda menghadap matahari</title>
		<link>http://www.matawaktu.com/?p=9</link>
		<comments>http://www.matawaktu.com/?p=9#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 09:15:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bersikap optimis]]></category>
		<category><![CDATA[Helen Keller]]></category>
		<category><![CDATA[Ketahui kelemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lee Kuan Yew]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.matawaktu.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[“Ketika Anda menghadap matahari, bayangannya akan selalu jatuh di belakang anda”
(Helen Keller, 1880 – 1968)

1. Bersikaplah optimis
 Tak ada sesuatupun dapat dimulai dengan baik tanpa perasaan optimis. Bisa saja orang tidak sungguh – sungguh tahu apa yang akan terjadi ketika ia menyelesaikan suatu pekerjaannya, tapi setidaknya perasaan optimis akan terus menuntun usahanya untuk sampai ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>“Ketika Anda menghadap matahari, bayangannya akan selalu jatuh di belakang anda”</strong></em><br />
(Helen Keller, 1880 – 1968)</p>
<p><img src="http://i668.photobucket.com/albums/vv47/matawaktu/Meditation.jpg" alt="Berpikir kreatif_1" title="Berpikir kreatif_1" width="127" height="95" class="alignleft size-full wp-image-67" />
<p><strong>1. Bersikaplah optimis</strong></p>
<p> Tak ada sesuatupun dapat dimulai dengan baik tanpa perasaan optimis. Bisa saja orang tidak sungguh – sungguh tahu apa yang akan terjadi ketika ia menyelesaikan suatu pekerjaannya, tapi setidaknya perasaan optimis akan terus menuntun usahanya untuk sampai ke garis akhir tujuannya, atau setidaknya terminal sementara untuk kemudian meneruskan usahanya.</p>
<p>Optimisme berarti  memiliki harapan, bahwa secara umum hal-hal dalam kehidupan yang dipikirkan/dikerjakan, akan berjalan baik – baik saja, meskipun seringkali gagal dan hancur. Pada kebanyakan kasus, optimisme lebih pada <span id="more-9"></span>bagaimana cara seseorang memandang suatu usaha yang dilakukannya (terutama saat menemui kegagalan). Orang yang optimis akan berpikir bahwa kegagalan terjadi  karena sebab &#8211; sebab yang bisa diubah. Sebaliknya, orang yang pesimis menganggap kegagalan datang dari sesuatu yang tak bisa diubah, dan ia menerimanya begitu saja. Optimisme merupakan cara untuk mencegah orang  bersikap putus asa, depresi dan masa bodoh ketika dihadang kesulitan.</p>
<p></p>
<p>Tentang optimisme,  ada ilustrasi yang menarik tentang Babah Akong, seorang nelayan tua di pesisir desa Ndete, Kepulauan Flores,  sebagaimana yang didokumentasikan dalam film yang terpilih sebagai salah satu finalis  Eagle Awards Documnetary Competition 2008 yang diselenggarakan Metro TV. Ketika desanya hancur dan harta bendanya musnah karena tsunami di Flores tahun 1992, bukannya merasa kehidupannya berhenti, namun ia justru tertantang untuk memecahkan masalah serupa jika suatu saat terjadi tsunami lagi. Ia kemudian berusaha menanam pohon bakau, sebuah pekerjaan yang semula ditertawakan dan diejek oleh istri dan tetangga-tetanganya.  Bahkan untuk urusan kecil seperti membeli parang dan sekop utnuk memulai usahanyapun ia mesti meminjam uang dari temanya. Namun ia terus melaksanakan keinginannya. Tahun 1997, setelah  lima tahun pekerjaan itu dijalaninya, pohon – pohon bakau itu mulai tumbuh. Tapi begitu mulai besar pohon itu sebagian besar justru mati. Ia mencari sebabnya dan menemukan bahwa akar pohon-pohon tersebut tidak kuat tertanam. Ia tidak putus asa. Bersama istrinya yang karena kesungguhannya kemudian memberi  dukungan, ia menemukan cara dengan menanam bibit pohon itu memakai polybag. Bagi mereka harga polybag tidak murah, sehingga istri Babah Akong  sampai menjual kalung lama pemberian suaminya dan Babah Akong sendiri menjual babi piaraannya. Karena ketekunannya dan rasa optimis yang terus ia pelihara, sekarang setelah 16 tahun usahanya, Babah Akong dan istrinya sudah menghijaukan 23 hektar pantai di Flores. Bahkan kini Babah Akong sudah membentuk kelompok pelestari hutan sebanyak 41 grup dengan anggota sebanyak 2.000 orang.</p>
<p> </p>
<p>Bukankah optimisme menjadi senjata vital yang sangat berharga dalam kehidupan Babah Akong tersebut? Bagaimana seandainya Babah Akong menafsirkan kekalahan hidupnya secara pesimistik, bukankah itu justru akan memperbesar rasa tak berdaya dan putus asa?</p>
<p></p>
<p><strong>2. Ketahui dan abaikan kelemahan kita<br />
</strong></p>
<p>Bayangan hitam, kelemahan – kelemahan kita,  jika kita sadari, kita petakan dan kemudian kita karantina, pada akhirnya hanya sekedar akan mengikuti, tanpa pernah menjadi penghalang di depan kita. Kelemahan dan kekurangan adalah sebuah keniscayaan yang selalu ada di setiap manusia.  Tinggal bagaimana kita menyikapi kelemahan – kelemahan tersebut. Kita hanya akan terjebak menjadi manusia yang picik dan kerdil jika terus menerus menempatkan kelemahan di depan kita dan memutuskannya sebagai sesuatu yang tidak bisa disingkirkan. Sudah semestinya kita menyingkirkan dan mengabaikan kelemahan kita, selama kita memang ingin terus berjalan ke depan dan mengejar harapan dan keinginan kita.  Apa yang kita kejar dan hadapi tumbuh di depan kita dan apa yang kita abaikan akan berjalan di belakang kita.</p>
<p></p>
<p>Helen Keller, adalah sosok luar biasa yang mampu mengabaikan kelemahanya dan menghadapi serta mengejar apa yang ia inginkan. Dengan “bayangan hitam” kecacatan dua indra sekaligus : buta dan bisu – tuli, ia terus memelihara keyakinannya.  Ia luwes menghadapi kekurangannya dan bahkan berprestasi tinggi, jauh melebihi orang – orang normal yang seringkali justru menangisi sedikit kelemahannya. Helen Keller menulis banyak buku. Ia mampu menyadari kecacatannya, dalam arti mampu menghadapinya dengan wajar, dan mengkarantina kekurangannya itu sehingga tidak menjadi penghalang bagi harapannya.</p>
<p></p>
<p><strong>3. Tetapkanlah apa yang kita kejar</strong></p>
<p>Seorang sprinter pasti paham betul dimana posisi garis finis, sehingga ia akan terus berusaha mengerahkan tenaganya sebelum sampai ketitik finis lomba. Menetapkan apa yang kita kejar, akan sekaligus berarti menetapkan cara, strategi, dan dukungan kemampuan dalam mengejar tujuan itu. Menetapkan berarti berusaha membuat usaha kita terus lurus dan fokus pada tujuan. Bisa saja selama mengejar tujuan itu, kita di belokkan oleh berbagai hal. Tapi membuat jalan menjadi lurus dan fokus kembali  adalah buah dari upaya menetapkan tujuan. </p>
<p></p>
<p>Siapa tidak kenal Lee Kuan Yeew, Bapak pendiri Singapura itu. Sadar bahwa Singapura hanya sebuah “titik kecil” di peta, dan lahir sebagai negara tanpa sumber daya alam, termasuk sumber air, serta banyak kekurangan yang lain, Lee Kuan Yeew memimpin rakyatnya dengan strategi bekerja keras, disiplin, jujur dan bersih. Ia terus menetapkan tujuannya untuk membentuk negara yang maju, modern dan kaya. Dan sekarang tujuan itu berhasil karena ia terus – menerus menetapkan apa yang ia inginkan dan konsekuen mengejarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.matawaktu.com/?feed=rss2&amp;p=9</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
